Tak Berkategori

UNNES GOES JOGJA (UNNES Maiyahan)

Ini bukan catatan travelling, catatan perjalanan belanja apalagi catatan perjalanan cinta

Bukan tempat-tempat menarik yang tersebar di kota Gudeg Jogja yang kami kunjungi, bukan juga tempat-tempat religi yang ada disetiap sudut kota Jogja. Melainkan tempat kediaman salah satu dari penduduk Jogja yang bernama Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun. Tujuan kami ke Jogja tentunya dalam rangka mengais ilmu.
Dengan mata masih sayup-sayup kami harus berkumpul di depan Bank BNI UNNES pukul 05.00 WIB. Ternyata kedatangan kami masih lebih pagi dibanding dengan kedatangan bus. Tak banyak yang kami lakukan ketika menunggu bus datang. Hanya menguap sana sini, melepas rasa kantuk dan juga membayangkan bagaimana acara di Jogja nanti.
Sebenarnya perkenalan kami dengan Cak Nun tak terlepas dari sosok hangat dosen PAI Pak Ilyas. Beliaulah yang sering membagikan cerita. Siapa dan bagaimana itu Cak Nun. Walau tak spesifik dan malahan berujung dengan bertambahnya kebingungan kami akan Who is Cak Nun?ย 
Sesampai menginjakkan kaki di bumi Jogja. Tugas pertama rombongan kami adalah sowan ke kediaman Cak Nun. Disambut dengan Mr.MC (sungkem lupa namanya)ย  dan gerimis rintik-rintik yang berubah menjadi guyuran hujan deras. Ramah tamah yang kami lakukan cukup baik. Diawali dengan perkenalan pemateri dan dilanjutkan oleh pihak rombongan UNNES.
Materi tentang sekolah alam dan pendidikian untuk anak (lebih spesifiknya anak usia dini) menjadi suguhan ditengah derasnya hujan saat itu. Tapi apa karena materinya kurang greget atau karena sudah capek, alhasil menguap sana-sini menjadi tak terelakkan. Syukurlah, ada kawan yang mau mengajukan diri untuk bertanya. Hitung-hitung sebagai penyelamat wajah kami yang mulai tidak fokus. Heuheu
Berhubung dijadwal tertulis tujuan selanjutnya adalah Malioboro. Jadi, itu tandanya kami harus membuang penghuni dompet di tempat tersebut. Bagi anak UNNES yang gemar berbelanja, tempat ini bisa menjadi surga tersendiri untuknya. Dari pakaian, aksesoris, boxer, kain, tas, sendal, semuanya komplit. Tinggal pilih dan pandai-pandai dalam negosiasi sama pedagangnya.
Sebenarnya acara inti dari kedatangan rombongan UNNES ke Jogja terletak di TK Alhamdulillah, yang lebih tepatnya dengan acara Maiyahan.
Rombongan dengan jas kuning-kuning laksana pendekar partai Golkar telah sampai dipelataran TK. Baliho/spanduk bertuliskan “Macapat Syafaat” menyambut kedatangan kami. Kami semua menempatkan diri dengan posisi masing-masing yang dirasa paling nyaman. Tak lupa masker telah terpasang rapi diwajah kami sebagai benteng perlawanan terhadap asap rokok yang semakin malam semakin mengepul.
Pembukaan diawali dengan tilawah bersama. Suara merdu nan tartil menambah rasa ketentraman sang malam. Gerimis turut menemani sang malam di kota Jogja. Sholawat mulai didendangkan ditengah rintikan hujan yang ikut memeriahkan acara Macapat Syafaat. Semuanya diam, semuanya terkesima dengan pesona sholawat yang dilanturkan oleh Kiai Kanjeng. Perpaduan suara gendang dengan alat orkestra musik lainnya menambah pesona tersendiri. Aransemen yang apik dan keren tentunya.

Selanjutnya yakni mukadimah dari Cak Nun. Beliau memperkenalkan siapa saja para personil Kiai Kanjeng. Ternyata ada yang ex vokalis band, ex penyanyi dangdut dan berbagai latar belakang yang berbeda tentunya.

Semakin malam, atmosfernya semakin pecah. Dengan berat hati kami anak UNNES harus keluar dari barisan dan berpamitan dengan para mualaf-mualaf * lain yang hadir di Macapat Syafaat malam itu. Kami harus pulang kembali ke kota Semarang. Begitu banyak ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan dalam serangkain acara di Jogja ini.

Teruntuk saya pribadi. Ada satu ilmu yang saya jadikan oleh-oleh dalam kunjungan ke Jogja ini. Yakni ilmu keikhlasan dari pohon kelapa.

Para pemanjat dengan garangnya menaiki pohon kelapa. Mengambil buah kelapa dengan senjata tajam. Kemudian menjatuhkannya ke tanah tanpa mempedulikan rasa sakit yang diterima si buah kelapa. Memukul-mukulnya dan mengambil daging buahnya. Tak berhenti sampai disini, daging buah kemudian dikeroki untuk mendapatkan daging yang benar-benar putih bersih. Selanjutnya daging buah kelapa diparut untuk mendapatkan santannya. Namun setelah santan jadi dan dicampur dengan pisang. Namanya bukanlah KOLAK SANTAN tapi KOLAK PISANG. Padahal rasa sakit yang dirasakan si kelapa begitu bertubi-tubi, tapi tak ada penghargaan sama sekali untuknya. Si kelapa pun menerimanya dengan ikhlas, tanpa protes.

Kasihan kan sob… ๐Ÿ˜ฅ

*mualaf : (katanya) sebutan untuk yang baru pertama kali ikutan Maiyahan ๐Ÿ˜€

Satu tanggapan untuk “UNNES GOES JOGJA (UNNES Maiyahan)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s