Tak Berkategori

Tangan Ketulusan

Deruan ombak terus saja membisikkan namanya. Membuyarkan segudang imajinasi yang mulai kubangun. Hempasan pasir mencoba memelukku dengan sangat lembut.

“Delisa, sedang apa kau disana?” Teriak Caca sahabat karibku dari salah satu gazebo pinggir pantai.

“Membayangkannya” Teriakku tak kalah keras dari suaranya

“Dasar kau, bukankah kau telah mengikhlaskannya?”

Aku kembali mengukir senyuman dibibirku. Kali ini aku telah mantap menentukan pilihan. Mencoba membuka mata lalu menutupnya kembali, membuka lagi lalu menutupnya lagi. Dengan begitu aku bisa merasakan kehadirannya disisiku.

“Apa kau tak apa untuk tetap melanjutkan program studimu dibidang pendidikan?” Tanya Caca yang kini telah duduk ditepi pantai bersamaku.

“Ya, ibu sangat mencintai dunia pendidikan, mana mungkin anaknya menghancurkan kebahagiaan milik ibunya. Biarkan aku membuatnya tersenyum di surga sana dengan bertahan sesuai dengan keinginannya dulu untuk menjadi guru”

“Syukurlah kau sudah mengerti jalan pikiran ibumu.”

“Negeri ini masih memerlukan sosok seperti ibu. Tangan ketulusannya yang dulu pernah menyentuhku membuatku tersadar. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan mencerdaskan kehidupkan bangsa?”

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s