Tak Berkategori

[Cerpen] CINTA 1 DEKADE

Secarik kertas putih berbentuk hati tergeletak di atas meja kamarnya. Kertas yang terselip ditumpukan buku-buku lamanya. Tulisan khas anak SD pada kertas itu sukses membuatnya tersenyum geli ketika membacanya.
“Ahh tulisan sepuluh tahun silam. Surat untuk dia yang belum sempat kuberikan.” 
Seketika pikirannya melayang, menyusuri kejadian sepuluh tahun silam. Mengenali nama yang tertulis disecarik kertas tersebut. Cuplikan-cuplikan memori sepuluh tahun silam mulai memutar dikepalanya. Memperlihatkan sosok anak lelaki yang mampu membuat remaja seusianya jatuh hati.
“Seriuskah? Surat itu masih ada?” Terdengar suara terkejut milik wanita diujung telpon Anne. 
“Jangan-jangan cinta monyetmu kini telah berubah jadi cinta serius? Sebenarnya kau masih suka sama dia kan? Terus bagaimana hubunganmu dengannya sekarang?”
Butuh waktu yang tidak sedikit jika harus menjawab banyaknya pertanyaan yang dilontarkan padanya. Alhasil Anne memutuskan untuk bertemu dengan Lia, wanita yang diajaknya bicara lewat telpon.
***
“Genta Atmajaya, gimana kabarnya sekarang?”   
“Entahlah. Tampaknya dia hidup dengan baik di kota metropolitan Jakarta. Barangkali juga dia sudah memiliki kekasih” 
Lia mengernyitkan dahi mendengar nada suara Anne yang tampak enggan membahas cinta satu dekadenya, berbeda ketika ditelpon tadi. 
“Anne, kau sebenarnya masih menyukainnya kan?” 
“Sepuluh tahun aku tersiksa. Menyimpan rasa cinta sendiri tanpa kepastian. Seoalah-olah aku yang jadi parasit untuknya. Menyapaku dan bicara padaku saja menolak.” Jelas Anne dengan mata berkaca-kaca, bersiap menumpahkan butiran yang tersembunyi dibalik matanya.
“Sudahlah An, menurutku sikapnya seperti itu bukan karenamu. Kau belum tahu gimana perasaannya padamu. Gara-gara kertas yang usianya sepuluh tahun itu kau jadi seperti ini.” 
Cinta monyet yang telah berubah menjadi belati untuk dirinya sendiri. Menimbulkan luka penantian selama sepuluh tahun. Berawal dari celotehan teman SD yang sering menjodoh-jodohkan dirinya dengan Genta. Pernah sekali dia berusaha menyampaikan perasaannya, namun apa yang terjadi, Genta memutuskan komunikasi dengan Anne. Saat itulah hubungan Genta dan Anne seolah terhalang tembok Berlin yang sangat kokok dan berubah sedingin es dikutub. 
“Aku harus mencari kepastian. Apa cinta dari zaman bocah yang kubawa selama hampir sepuluh tahun akan terbalas? Apa akan berkisah tragis dimana aku yang akan sepenuhnya terluka? Setidaknya jika memang harus berakhir tragis, aku tahu bagaimana perasaannyadan bisa memperbaiki hubungan pertemanan yang dingin selama satu dekade ini kan. Aku harus menanyakannya.” Tiba-tiba terlintas keberanian yang membangunkan syaraf dalam diri Anne.
***
Mentari pagi kembali menyapa kota kecil Kudus, tempat dimana ia menghabiskan waktu liburan sembari  menunggu hari wisudanya tiba. 
“Hei mentari, menyakitkan bukan? Harus menyimpan perasaan sendiri selama bertahun-tahun. Sedangkan ia sendiri tengah asyik dengan setumpuk aktivitasnya di Jakarta sana, ah sama kekasih barunya juga. Dasar kau tak punya perasaan! Bertemanpun enggan. Kenapa kau begitu dingin tanpa rasa belas kasihan?”
Tiba-tiba suara telpon milik Anne menghentikan ritual curhatannya dengan mentari. Tubuhnya melonjak kegirangan ketika membaca pesan singkat milik Lia, sahabat sekaligus teman SD nya dulu. Dengan wajah penuh berseri dia meninggalkan kursi malas yang terletak dibalik jendela besar kamarnya. Berharap akan ada banyak momen dan kenangan yang nantinya terjadi. ‘Ah Genta pasti masih di Jakarta, tak perlu khawatir bakal bertemu dengannya’, batin Anne. 
Langit senja telah datang menjumpainya, menandakan dia harus segera pergi untuk menghadiri acara temu kangen bersama teman-teman SD. 
“Sore semua, maaf hampir amnesia tadi” Sapa Anne dengan senyum sumringah pada semua teman SD nya yang telah dulu datang. 
“Akhirnya sang putri telah datang, tinggal menunggu sang pangeran nih” Celetuk salah satu temannya yang mempersilahkan ia duduk.
“Syukurlah kau datang sebelum turun hujan. Lihatlah mendungnya mengerikan. Eh bukannya kau bakal berangkat ke Jepang untuk studimu? Terus bagaimana nasib cinta satu dekademu itu?”
Terlihat jelas keterkejutan diwajah Anne. Kenapa teman-temannya mengetahui detail apa yang terjadi dengannya. Seketika tatapan bola mata hitam miliknyaya tertuju pada Lia yang pura-pura tak menyadari percakapan tadi.
“Lihatlah, sang pangeran sudah datang!” Teriak Lia yang berusaha mengalihkan tatapan Anne dari dirinya.
Hujan turun dengan derasnya tanpa memberi ampun. Membuat pakaian kemeja yang dikenakan Genta setengah basah kuyup. Disalah satu sudut kursi yang tengah diduduki wanita muda berumur 22 tahun tampak terlihat semakin gusar dan panik. Tangannya diremas tanpa henti-hentinya. Degup jantungnya sudah tak beraturan. Seolah tak percaya sekaligus tak siap dengan kedatangan Genta, cinta terpendamnya selama satu dekade. Langkah kaki milik lelaki jangkung bernama Genta semakin mendekat, menuju para pengisi meja nomor 6 dan 7. Sorak sorai menyambut kedatangan Genta. Hujan juga tak kalah bersorak kala dia datang. Kecuali Anne. Kini mereka berdua duduk saling berhadapan dengan sekat meja didepannya. Mereka pun akhirnya bersalaman dengan mata tak saling memandang. 
“Ciee, akhirnya sang putri dan pangeran duduk bareng. Jadi teringat masa SD dulu, dimana kalian yang sering jadi bahan candaan kami”
“Semoga perjodohan dulu benar-benar jadi kenyataan”
Satu jam telah berlalu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Anne. Entah mengapa mulut Anne terasa kelu untuk menyapa Genta. Ah, dia tak pandai menyembunyikan perasaannya. Sedangkan Genta sendiri tampak asyik bercengkrama dengan sebelah kursinya. Tak mempedulikan Anne di depannya yang mematung seperti es beku. Disebelah Anne, terlihat Lia sedang komat-kamit menceramahinya yang dari tadi tak mau buka suara. 
“Ayolah An, bicaralah, gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Cinta satu dekademu sekarang ada di depanmu. Apa kau rela membuang waktu sepuluh tahun untuk mencintainya tapi kau sendiri tak tahu perasaan dia seperti apa?” Bisik Lia pada Anne.
“Bukan seperti itu Lia!”
“Kalau kau tidak mau menyatakan perasaanmu, cobalah dulu kau memperbaiki komunikasi dengan dia, bukan bicara sebagai cinta sepuluh tahunmu tapi sebagai teman SD mu”
Mata Anne mulai berkaca-kaca. Kini air matanya telah mengelilingi matanya. Pilihannya saat ini adalah meninggalkan kursi yang didudukinya sekarang. Sebelum belasan pasang mata milik temannya tertuju padanya. Tapi sayangnya ia telah tertangkap basah. Berdiri dan segera pergi meninggalkan teman-temannya, itulah yang dilakukan Anne.
“Kau memarahinya?” Tanya salah satu teman mereka kepada Lia.
Lia memilih untuk diam. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Lia. Hanya tarikan nafas panjang yang terdengar ditengah keheningan. Sorotan tajam milik mata Lia kini tertuju pada Genta. Suara dentingan gelas yang tak sengaja tersenggol tangan Lia memecahkan suasana hening dipertemuan tersebut.
“Genta, kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?” Terpeta jelas diwajah Genta yang mengisyaratkan bahwa ia tidak tahu apa yang dimaksud Lia.
“Mungkin Anne butuh waktu untuk menyatakan perasaannya padamu Ta,tentunya bukan sekarang.” Nada kekecewaan keluar dari mulut Lia. 
Seluruh pengisi meja 6 dan 7 berbisik antar satu sama lain. Dugaan mereka benar bahwa Anne sebenarnya menyimpan perasaan  pada Genta dan itu sudah berlangsung selama satu dekade.
“Aku memang memutuskan komunikasi dengannya semenjak kita lulus SD. Itu karena aku tak nyaman dengan sikap kalian semua yang selalu memojokkan.”
Setelah melontarkan dua kalimat pernyataan tersebut, Genta pergi dengan muka masamnya yang merasa telah disalahkan atas sikap Anne baru saja.
***
Semenjak kejadian yang terjadi di cafe. Anne menyibukkan diri dengan persiapannya untuk melanjutkan S2 di Jepang. Pikirannya tak lagi tertuju pada Genta cinta satu dekadenya, karena dia menyadari bahwa ini akan berakhir sia-sia. Jika dia terus melanjutkan cintanya, nantinya dialah yang akan semakin terluka. Mungkin ini saatnya dia harus mengakhiri semuanya. Sempat terlintas dipikiran Anne untuk mengirim surat ke Genta, agar dia bisa menuangkan apa yang dirasakannya selama satu dekade ini. Berharap semuanya akan berakhir lewat surat tersebut. Apapun respon Genta setelah membaca suratnya, dia tak akan menelisik mencari tahu. 
Begitu juga dengan Genta. Tak ada kabar setelah kejadian 3 haris silam di cafe Expresso. Apakah dia kembali ke kota metropolitan Jakarta? Apakah dia bersembunyi bersama sikapnya yang dingin itu? Apakah dia memang sekejam itu meninggalkan perasaan Anne yang telah mencintainya selama sepuluh tahun? Entahlah.
To        : genta_augusta@gmail.com
Hai yang lagi sibuk skripsi, apa kabar?
Ingin rasanya menyapamu seperti ini secara langsung. Tapi itu tak mungkin untuk dilakukan dalam waktu dekat ini. Barangkali lain waktu ketika komunikasi kita tak sedingin es kutub seperti ini. Lucu ya rasanya menulis email seperti ini. Kau pasti tak menyangka aku bakal senekat dan segila ini. Apalagi aku diam-diam menyukaimu selama sepuluh tahun. Jujur sangat sulit untuk bicara denganmu secara langsung. Aku sendiri tidak mengerti apa penyebabnya.
Jangan harap kau menemukan permintaan maaf dariku dalam surat ini. Aku tak akan meminta maaf telah mencintaimu selama sepuluh tahun. Bukankah perasaan takkan pernah salah? Jika kau mengijinkan jangan biarkan cinta ini terus berkembang. Bersikaplah seperti teman biasa pada umumnya. Itu yang akan meyakinkanku jika kau tak punya perasaan padaku. Jangan khawatir, cinta satu dekade ini kan kupastikan akan segera berakhir. Membiarkannya lepas terbawa angin bersama bunga sakura nantinya.
Semoga surat email ini menjadi jembatan kita untuk memperbaiki silaturrahmi kita sebagai teman satu angkatan SD. Kelak kita bertemu dengan cerita baru tanpa dinding tembok Berlin yang membeku. Sukses untuk skripsweetnya.
Temanmu, Anne.
Idealis dan penuh kegengsian menjadi cerminan surat Anne untuk Genta. Walau pada akhirnya tak semua yang tertulis sesusai dengan kenyataan. Dia akan tetap mencintainya selama jumlah waktu yang tak terhitung. Satu dekade, dua dekade, sepuluh dekade bahkan satu abad. Mencintainya dalam diam adalah pilihannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s