Tak Berkategori

[Cerpen] The Skeptic

Ceklek… ceklek… ceklek…
Suara gagang pintu dari luar ruangan membangunkan segala lamunannya. Seketika wajahnya memucat panik tak karuan. Kakinya yang bertumpu di atas meja dengan reflek turun kembali menginjak bumi. Dengan segenap sisa kesadarannya, dia bangkit dari kursi melangkahkan kakinya ke arah pintu yang berjarak 5 mete. Berulang kali ia menarik napas untuk mengontrol kesadarannya agar kembali pulih. Jari-jarinya kini bergerak ke atas kepalanya, beralih fungsi menjadi sebuah sisir. ‘Oke, saatnya bertemu para idiot’, gerutunya pelan nyaris tak bersuara. Tangannya telah berada disekitar gagang pintu, bersiap menyambut siapa dibalik pintu.
“Kenapa pintunya dikunci segala, gue kira terjadi sesuatu di dalam” Serobot pria yang berperawakan tinggi dibalik pintu tersebut, yang tak lain partnernya sendiri dalam kasus ini.
“Ini kan ruang rahasia, wajar kan kalau dikunci” Jawabnya dengan penuh keyakinan.
“Tak biasanya, sikap loe aneh!” Tukas pria satunya lagi yang berperawakan lebih pendek yang kini telah memposisikan diri duduk disekeliling meja segilima dalam ruangan tersebut.
Dia menyadari mata kedua temannya seperti menemukan sebuah misteri. Menyapu seluruh ruangan dengan mata elang mereka. Karena pekerjaanlah, mata mereka jadi terbiasa seperti ini. Selalu menaruh curiga apapun, dimanapun dan kapanpun itu. 
“Dasar skeptis ! Kayak baru kenal gue aja kalian.” Berusaha menipis jarak kecurigaan yang dirasakan oleh kedua pria yang duduk di depannya.
“Ada sesuatu yang ingin gue diskusikan dengan loe” Mata pria tinggi tersebut berubah tajam kembali menatapnya yang sibuk memainkan rokoknya.
Raut wajah paniknya kelihatan telah menghilang tanpa meninggalkan jejak. Setidaknya dia kini telah bernapas lega atas pergantian topik pembicaraan ini. Dia menghisap kembali rokok yang ada ditangan kanannya. Memejamkan mata. Berusaha membawa diri serelaks mungkin, melupakan kejadian beberapa menit yang lalu, dimana saat ia berada di ruangan seorang diri.
“Gue suka gaya loe yang kayak gini, pak ketua pasti bangga sama loe.”
Pujian yang sukses meluncur dari bibirnya, membuat perutnya terasa geli sendiri. Rupanya dia baru pertama kali memuji partner barunya ini. Tak ketinggalan senyuman manis turut hadir dibibirnya. Seketika pria tinggi dan pria pendek tersebut saling bertukar pandang menatap tingkahnya yang seolah telah memuji anak kecil yang menang lomba kelereng.
“Nampaknya kau tak keberatan jika kami berdua yang akan menangani kasus ini” Ucap sang pria pendek dengan nada yang penuh harap.
‘Sial! Katamu kasus ini?’ 
Tak ada suara yang keluar dari bibirnya, yang ada hanya suara hatinya yang dipenuhi dengan adrenalin terkejut, tak percaya dan kemarahan. Alisnya terangkat seperti dia tak mau mempercayai ucapan pria pendek tadi.
“Kau bisa fokus dengan penyelidikan pejabat rekening gendut itu, darimana uang gendut itu berasal, sedangkan kita fokus kemana dana-dana tersebut dialirkan. Bukankah ini akan menguntungkanmu, karena kau bisa menangkap tikus-tikus lebih banyak?”
Kepalanya mengangguk pelan, seolah-olah dia setuju apa yang baru saja dikatakan. Sebaliknya, pikirannya memberontak berusaha mencerna dan mencari jawaban dari yang dikatakan padanya. Pikirannya terus membisikkan kata ‘Jangan’. Hatinya kembali panas dingin merasakan ucapan kedua pria tersebut yang dianngapnya skeptis.
“Loe nggak keberatan kan?” Pertanyaan dari pria yang berperawakan tinggi membawa kesadarannya kembali ke meja segilima ini.
“Bukan begitu, tapi semua data sang penerima aliran dana ada padaku. Mana mungkin aku membocorkan yang diberikan ketua, walau itu partner sendiri.” Dia berusa mengontrol nada suaranya setenang mungkin.
“Bagaimana dengan ini?” Tanya sang pria tinggi
Tangan milik pria tinggi itu kini telah memegang laptop. Memainkan jarinya untuk menuntun cursor menuju apa yang diinginkannya. Membuka halaman demi halaman dan memperlihatkan kepadanya. Matanya terbelalak seakan ingin keluar untuk memastikan apa yang baru saja dilihat. Kekagetannya bertambah berkali-kali lipat. Diam sejenak, itulah pilihannya sebelum menanggapi apa yang baru saja dilihat.
“Oke, aku tahu itu softcopy dari hardcopy-nya ini kan?” 
Tiba-tiba sebendel kertas meluncur begitu saja di atas meja segilima yang berasal dari laci. Dia berusaha setenang mungkin menghadapi si skeptis yang menjadi partnernya ini.
“Aku sudah tahu kalau kalian pasti menanyakan ini kan? Asal kalian tahu, softcopy-mu kelihatan tak selengkap yang aku kira. Coba tanya kembali sama ketua.”
“Ya memang, ini cuma yang penting-penting saja. Karena menurutmu ini belum lengkap, makanya gue meminta bantuan sama loe buat memberi informasi lebih tentang ini. Kita kan partner bukan?”
Kelihatan suasanya sedikit mencair dibandingkan 2 menit yang lalu. Tapi tampaknya itu tak berlaku pada tubuhnya. Dia tak menyangka mendapat jawaban dari si skeptis pendek seperti itu.
“Oke, kita profesionalitas saja. Apa yang loe ingin didiskusikan dengan gue? Gue masih belum nyelem lebih jauh tentang kasus ini?”
“Apa loe sudah meneliti siapa saja yang ikut menikmati dana haram ini? Kelihatan sebagian besar ini artis, tapi yang dituliskan disini nama aslinya, jadi banyak yang nggak menyadarinya.”
Dia menarik napas kembali sambil memenjamkan mata. Mengatur ritme detak jantungnya.
“Ada beberapa yang sudah gue teliti. Daria Sumaktari, dia pengusaha parfum. Kerina Putriayu Sumakjaya, dia penyanyi dengan nama panggung Kerina Ayu. Hayuningdias Kirasih, dia model dengan nama tenarnya Hayu Citra. Frenda Fironica, seringnya dipanggil Cacanica, dia model juga. Dan yang lain kebanyakan pengusaha dengan nama aslinya.”
Si pria pendek dan tinggi terus mengangguk pelan mendengarkan penjelasannya. Tatapan elang mereka tetap tak lepas dari matanya. Menaruh antara rasa percaya atau tidak?
“Sebenarnya gue capek, introgasi kayak gini. Lhawong ujung-ujungnya pasti cewek yang menerima dana aliran itu. Kebanyakan juga dari kalangan artis, model, penyanyi, pengusaha sosialita. Kasih ke pemburu berita pasti langsung ketangkep ini.” Kata sang pria tinggi yang mengubah nada suaranya lebih santai dibandingkan sebelumnya.
“Itu uang negara, idiot! Enak aja mereka dibiarkan berkeliaran. Bisa saja ada yang ikut merasakan uang haram itu dibalik nama-nama yang tertulis disini. Kalau langsung dikasihkan ke para jurnalis, dampaknya buruk dimasyarakat ” Nadanya meninggi, menanggapi apa yang baru saja sang pria tinggi ucapkan.
“Nah kan. Eh ngomongin model, dulu loe pernah cerita punya gebetan model juga, namanya kalau nggak salah Rustami Yuni Anggreini. Namanya hampir.. eh… persis sekali dengan nama ini.” Sang skeptis pendek memasang raut muka penasaran di depannya.
Deg,
“Barangkali kebetulan, kan bisa saja.” Jawabnya dengan tenang.
“Tapi datanya ini menunjukkan kelahiran Palembang, sama seperti loe. Sayang dia menggunakan KTP Palsu dan nama samaran Anggrenika Febiola. Jadi memang agak menyulitkan untuk melacaknya secara cepat seperti yang lain. Banyak reporter yang memburunya, kabarnya ada kuda hitam dibelakangnya. Bodoh banget itu cewek mau dimanfaatkan.” Nada sang pria skeptis tinggi tak kalah tenang dengan nada jawabannya.
Seketika, wajahnya merah padam. Memendam amarah yang siap membludak bak bom nuklir. Tak ada sikap ketenangan yang selalu berusaha ditunjukannya. Mulutnya tak henti-hentinya bersumpah serapah.
“Gue tahu arah pembicaraan kalian. Loe menuduh gue sebagai kuda hitamnya kan?”
“Hahahaha” 
Tiba-tiba emosinya kemarahannya disambung dengan tawa menggelerkan miliknya.
“Ya kalian memang punya syndrome skeptis yang luar biasa hebat. Kecurigaankan kalian 100% benar, Rustami-ku adalah yang kalian cari. Silahkan kalian lapor ke ketua idiot itu atau sekalian confrency pers, sayang bukti yang kalian punya nihil”
Matanya terus menatap kedua pasang mata milik pria pendek dan tinggi secara bergantian. Bukan rasa takut yang tersorot dimatanya, tapi rasa tantangan dan kemenangan. Tapi kedua pria tersebut tetap dengan tenang dengan senyum yang terpancar diwajah mereka, yang juga mengisyaratkan kemenangan.
“Baiklah, semoga harimu kedepan menyenangkan. Gue mau ngelakuin apa yang loe perintahkan tadi.”
Kedua pria yang berperawakan tinggi dan pendek kemudian berdiri, melangkah menuju pintu untuk meninggalkannya dan meja segilima.
Sial! Matanya menangkap sinar warna merah dari pena yang berada ditangan pria yang berperawakan pendek. Kemungkina itu sinar LED. Berarti pena itu adalah CCTV !!!
*** 

Skeptis : Sikap untuk mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu. (Keraguan)

@misslimsun
 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s