Tak Berkategori

[FF] Naungan Hujan

Hei sayang, aku masih berdiri disini. Tempat dimana kita berjanji untuk saling mencintai dengan penuh ketulusan. Tempat dimana kita memilih untuk diam sampai batas waktu entah kapan itu.
***
Hujan turun tak memberi ampun. Sama seperti air matanya yang berkamuflase bak hujan turun yang menyeka wajah putihnya. Putih pucat seolah tak ada aliran darah yang menyentuh wajahnya. Bibirnya yang berwarna merah maroon telah berubah warna membiru, walau begitu dia tidak akan pernah mengijinkan dinginnya sang hujan mengalahkannya.
Pikirannya terhempas ke kejadian 2 bulan lalu dimana sosok lelaki yang dicintainya tiba-tiba memutuskan kontak dengannya. Alasan yang tak bisa diterima rasionalnya membuat mulutnya terus membungkam diri. Membuat semua diam dan kosong. 
Hujan terus turun semakin deras, berusaha menggoyahkan tubuh kecilnya. Menggigil dan kedinginan. Seolah menggambarkan dia telah kalah. Tapi sorot mata dan bibirnya seoalah tetap bertahan untuk melawan dan yakin akan menang melawan hujan ini. Suara sosok lelaki yang dicintainya terus terngiang-ngiang dikupingnya, membuatnya semakin yakin bahwa dia akan selalu mencintainya sampai hujan tak pernah kembali turun.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s