Tak Berkategori

Sumpah Serapah Mahasiswa kepada Sopir Angkot

Tepat lima jam yang lalu sebelum menginjakkan kaki di tanah kelahiran kota Kudus tercinta. Ada satu cuplikan skenario hidup saya yang menggelitik pikiran dan hati saya. Seketika lantunan istighfar memenuhi hati saya.
Berawal dari niat seorang anak yang ingin pulkam untuk menemuhi ayah ibu di kampung halaman dan berlanjut segera merealisasikannya dengan menaiki angkot orange. Semuanya berjalan baik, seperti biasa tak ada interaksi antara penumpang satu dengan yang lainnya, sibuk dengan lamunannya masing-masing. Sampai tiba waktunya si angkot berhenti dan menurunkan semua penumpangnya untuk melanjutkan naik BRT.
Penumpang satu membayar dengan uang kertas bernominal angka lima dan diikuti tiga angka nol dibelakangnya, begitu juga dengan penumpang dua, tiga, empat dan dst. Semuanya aman. Sampai pada giliran saya untuk membayar tarif angkot. Uang berwarna biru dengan nominal angka lima dan empat angko nol dibelakangnya dengan ragu saya kasihkan ke pak sopir. Walau sama-sama angka lima, tapi jumlah angka nol yang berbeda sungguh membawa kesialan tersendiri.
Seketika raut wajah berseri pak sopir hilang mendapat uang kertas warna biru tsb dari saya. Refleks saya bilang “Maaf pak, saya tadi nggak sempet tukar uang receh”(pasang muka polos dan sok imut). Jawaban tak terduga keluar dari mulut bapak sopir itu. Dengan nada mengejek mengulang perkataan saya tadi. (padahal ditanngannya ada uang buat kembalian)
Diam. Saya pilih untuk diam, daripada saya balas nanti nggak dapat kembalian, lha rugi dong.
Dengan bibir tersungging ke atas, entah tanda mengejek atau mengajak damai. Si bapak tadi memberi uang kembalian kepada saya sebesar 44.000 perak. Dengan enteng si pak sopir bilang “jadinya enam ribu, berhubung uangnya nggak dituker dulu”.
Reflek saya balas “Astaghfirullah.. Ya Allah gusti pak, jahat banget jadi orang”. Berhubung saya ngomongnya keras, dengan berat hati si bapak sopir memberikan kembalian seribu perak tadi kepada saya.
Saya pun segera pergi meninggalkan angkot orange tersebut diiringi sumpah serapah dalam hati saya.
“Mudah-mudahan anak istrinya nggak malu punya bapak/suami yang mencari riskinya sama halnya kayak memeras orang (mahasiswa). Astaghfirullah…”
Semarang (13:00)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s