Tak Berkategori

ABC-nya Afection (Part 1)


Antara percaya dan tidak, melihat namaku di selembar kertas sudah tertempel pada salah satu ruang kelas dan itu cukup membuat logikaku terguncang. Aku coba lihat kembali kertas itu, ternyata itu memang nyata dan sekarangpun aku telah berdiri di ruang kelas XI IPA 5. Nama-nama yang asing, aneh dan ajaib gumamku setelah mengatamkan membaca tulisan yang ada dikertas  tersebut. Tak ada yang aku kenal dan akupun menjamin jika jiwa ragaku bakal sulit beradaptasi disini. Syukurlah, ada salah satu nama yang memberikan sedikit pencerahan. Aku ambil handphone yang berada  di tas punggungku untuk mengirim pesan singkat ke nomer 085 640 XXX XXX dengan pemilik Febriana Tigariayani. Febri atau Febrong atau Ayan adalah ex-teman sebangku zaman kelas sepuluh ( kelas 1 SMA)  dan kemungkinan besarnya akan berlanjut sampai 3 tahun kedepan. Beberapa menit kemudian, ada new message mampir ke handphone. Tak lain dan tak bukan adalah balasan dari pesan singkat tadi. Entah harus bersyukur atau berkufur, setelah memberi tahu ke Febri bahwa dia bakal jadi teman hidup alias teman satu kelas (lagi) di kelas XI, sekonyong-konyong dia menyodorkan tawaran, tak sekedar jadi teman sekelas tapi juga teman sebangku lagi. Berhubung ini dalam keadaan genting aku pun tak menyia-nyiakan tawaran menggiurkan itu. Karena sudah pernah satu tahun bersama selama kelas X, tambah 2 tahun lagi untuk kelas XI dan XII tak jadi masalah. 
Benar dugaanku yang telah dianalisis beberapa waktu lalu. Serasa sulit untuk tumbuh dan berkembang di kelas XI IPA 5. Lingkungan baru, kawan baru, buku baru, guru baru, kelas baru, adaptasi baru, semuanya yang serba baru bagiku sangat tak mengenakkan. Memang otakku yang sudah terdoktrin bahwa aku bakal tak nyaman untuk tinggal di kelas XI IPA 5, sehingga benturan-benturan antara hati dan lingkungan sudah tak terelakkan. Jika hati sudah tak nyaman, mau apa lagi coba. Satu-satunya tempat untuk membuang unek-unek adalah Febri, dia dengan setia mendengar curhatan saya atau lebih pantasnya disebut dengan hasutan. Karena kami merasa senasib sepenanggungan dan kami berdua dapat merasakan hal yang sama. Ada kelompok-kelompok yang mulai bermunculan dikelas XI IPA 5, dengan visi misi yang sama, indikasinya mereka terihat kemana-mana selalu terlihat bersama. Makan bareng, gosip bareng, belajar bareng, pilih kelompok tugas bareng dan sebagainya. Berhubung aku dan Febri selalu duduk di baris nomor wahid, sangatlah sulit untuk membuka diri bergaul dengan kelas. Untuk urusan duduk di Afection, indikator anak rajin berangkat sekolah bisa dilihat dari tempat duduknya, jika anak rajin maka duduknya akan berada di baris tengah-tengah atau strategis (dalam artian strategis buat dapat kipas angin, ngobrol dijam pelajaran, tidur dan nyontek) sedangkan anak telat atau hampir telat duduknya berada dibangku depan. Sungguh unik bukan?

 

Dedy Tri Irawan, sang khalifah di era zaman Afection kelas XI. Banyak dari kelas tetangga atau kelas seberang yang tidak percaya terpilihnya dia sebagai ketua kelas. Sungguh hamba lupa bagaimana proses Dedy dalam mendapatkan tahtanya sebagai ketua kelas. Unik dan tak ada duanya, gaya kepemimpinan yang ala kadarnyapun disandang oleh Dedy. Bagaimana tidak, dimana-mana pemimpin punya kharisma dan kewibawaan tinggi. Tapi itu hanyalah hoax belaka di kelas IPA 5. Yang terpenting mau neriman, mau disuruh apa aja, mau menjatuhkan diri di depan rakyatnya dan mau melucu di depan kelas. Sungguh itu paket lengkap bukan ? haha. Apa jangan-jangan dulu lagi demen sama Jokowi, jadinya para anak Afection pada khilaf pilih ketua kelas yang secara visual sebelas duabelas sama pak Joko. Biarkanlah saya berasumsi sesuka otak saya menuntun. Kepemimpinan Dedy pada era itu memberikan warna tersendiri dalam dunia Afection. Kekonyolannya, kelucuannya, kekoplakannya dan rayuan maut yang sering dilontarkan ke bu Wiwik guru bahasa Jawa cukup membuat bibir kami semua tersenyum lebar dengan tulus. 
Entah ini mimpi apa ilusi, semua itu telah berakhir dan sebenarnyapun kenangan itu pasti telah kalian tutup rapi. Tapi aku masih ingin menyalinnya ke dalam tulisan ini, menyalinnya dengan sebuah rangkaian kata-kata yang indah dan rapi sebagai tanda betapa bahagianya dengan takdirku bersama Afection.  Masih banyak kawan dan kenangan yang aku belum tulisakan disini, semoga tulisan  ini mampu berakhir di huruf Z.
Fajar mulai beranjak pergi digantikan oleh sang pagi. Pertanda aku harus siap menuntut ilmu di SMA 1 Bae. Dengan rasa was-was dan penuh kekhawatiran yang mulai memuncak. Akhirnya aku selamat sampai parkiran SMA 1 Bae.  Gaya ala tukang parkir sering kuperlihatkan  dikala berangkat dan pulang sekolah. Motor apapun dan milik siapapun yang berani-beraninya memakan banyak lahan parkir, harus siap-siap diseret kesana kemari. Di parkiran aku tak sendiri, disinilah sering menjadi tempat ketemuan gue, Febri dan Ratih. Bisa dikatakan kami bertiga jadi juragan telat versi cewek (karena ada versi cowoknya juga). Sepanjang jalan menuju kelas XI IPA 5, tak henti-hentinya kami menebar tawa. Febri dengan tawa maut ciri khasnya yang lama banget kalau berhenti. Ratih dengan suaranya yang tak kalah dengan toa masjid. Ngecengin kakak kelas ala anak ABG juga pernah kami lakukan. Sebut saja namanya Agus, wajahnya tak ganteng-ganteng amat, kerennya juga kalah keren sama TOP Big Bang, tapi otaknya cukup di atas rata-rata. Wajah holor dan cerita Ratih kalau pernah dilamar dengan nasi tumpeng itulah yang membuat tawa kita sering menjadi-jadi. Eh lamarannya hanya mimpi loh..
Gelak tawa tak hanya kami rasakan bertiga. Aku pun mulai berbagi dan terbuka dengan apa yang terjadi di Afetion. Jika dulu setiap diajak acara futsal bareng, muncak bareng ke montel selalu antisipasi dan memberikan seabrek alasan agar tidak ikut. Tapi diakhir kelas XI, rasa saling memiliki dan kekeluargaan mulai kentara di kelas. Walau sebenarnya kebersamaan masih berlanjut di kelas XII, tapi tetap saja momen saat masih berpangkat 2 di lengan tangan kiri berbeda dengan saat berpangkat 3. Arum, Ayik, Atun, Aulia, sebut saja dengan 4A (wkwk), dimana-mana mereka selau berempat. Inilah awal munculnya kesan miring dimata saya. Walau mereka baik sama saya, tetap saja sifatnya dengan kelas membuat bibir ini selalu dibuat nyinyir. Barangkali dulu saya cepat menilai sesorang tanpa mengenalnya lebih jauh, jadinya efeknya seperti itu. Tapi sekarang melihat mereka tumbuh, berkembang dan berteman baik dengan saya malah jadi akrab. Punten yaaa. Kejadian lucu pernah terjadi sama Arum, tepatnya saat mengajak kenalan dan melontarkan pertanyaan “Namamu Nurul kan?” dan disambut anggukan halus kepalaku itu. Polosnya wajahku dan wajahnya ituloh yang nggak kebayang.
Hari berganti hari, jam berganti jam, demikian pula menit dan detik. Tiba saatnya yang ditunggu-tunggu, study tour ke Pulau Dewata Bali. Perselihan sempat terjadi antar tiap kelas, alasanya sepele tapi tidak sepele juga, cuma permasalahan tempat duduk dan bis. Setiap kelas memberikan ultimatumnya tidak mau dipecah, apalagi dicampur baur dengan kelas lain. Tapi syukurlah kelas kami XI IPA 5 mendapat satu bus utuh, jadi tidak terpencar, mungkin ada beberapa dari kelas lain yang masuk dalam rombongan bis kami. Kami melewati perjalanan ke Pulau Dewata dengan suka cita, cekrak cekrek sana sini (belum ada istilah selfie) dan pastinya jailin teman yang lagi tiduran di bis. Ada kejadian yang memalukan, bagi saya ini malah bentuk pelecehan terhadap orang lain. Tepatnya saat tour guide rombongan kami sedang bersenandung menceritakan segala sesuatu indahnya Pulau Dewata Bali dan destinasi yang kami tuju, tapi yang diajak ngobrol malah pada tidur. Jujur, saya khilaf bli. Seingat saya, alasan kami tidur karena semalamnya kelayapan ke Pantai Kuta Bali. Berhubung destinasi ke Pantai Kuta Bali dicoret dalam daftar tujuan wisata sekolah karena keterbatasan waktu, alhasil kami punya inisiatif yang di luar nalar buat pergi ke Pantai Kuta malam-malam. Jarak pantai Kuta dengan wisma tempat kami menginap tidak jauh. Tidak ada sepuluh menit untuk sampai ke lokasi dengan menggunakan taxi. Sesampai di lokasi, gelap gulita dan suara deru ombak langsung menyambut kami. Kami datang di dini hari, jadi jangan harap penyambutan romantis ala sunset ataupun sunrise. Yang ada cuma orang mabuk yang sudah teler di pinggiran pantai. Ah, kami tetap bisa menikmatinya: melancong dini hari di Bali ternyata mengasyikkan, serem-serem gimana gitu.
Indahnya kebersamaan kami saat study tour di Pulau Dewata sudah berakhir, tapi tenang saja, sesi-sesi kebersamaan pasca study tour masih berlanjut. Selanjutnya saya akan berkisah tentang Ajang  Kartini  Kartono dalam mengenang jasa Pahlawan R.A Kartini. Siapa sangka pemilihan siapa yang akan didaulat untuk mewakili Kartini Kartono kelas XI IPA 5 menimbulkan keributan sengit. Mereka semua langsung memasang kuda-kuda untuk siap siaga menolak pendaulatan tersebut. Perwakilan Kartini diwakili oleh Vanessa. Cewek berperawakan kutilang (kurus, tinggi, langsing) ini cukup menjanjikan dan tidak malu-maluin kelas lah jika harus mewakili Kartini, maklum doyan dandan sih –lempar cengiran kuda–. Tapi, hal yang tidak terduga dan tidak disangka, kejutan datang dari pihak Kartono. Pendaulatan Kartono jatuh kepada teman sejawat kita bernama Zaenal Arifin dengan perawakan tinggi dan berambut ikal. Dalam sekejap dia menjelma menjadi pangeran yang dielu-elukan oleh Afectioners. Setidaknya dia bisa memanfaatkan momen itu untuk menaikan integritas dirinya beberapa persen.
Kisah-kasih di sekolah ala Afection diakhiri disini dulu ya. Biar matanya tetap sehat dan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti: mual, muntah, pusing, letih, lesu dapat dihindari. Sungkem juga jika ada yang kesel, bete, benci apalagi tersinggung dengan tulisan ini.  Sekian. See you in the next chapter.

2 tanggapan untuk “ABC-nya Afection (Part 1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s