Tak Berkategori

Mengeroposnya Ideologi

Beberapa hari dan malam yang lalu, acara diskusi yang diadakan oleh sekumpulan pergerakan mahasiswa se-Semarang usai digelar. Dengan beralaskan lantai ubin milik perpustakan pusat kampus, rinai hujan berangin sepoi-sepoi, serta tak ketinggalan gorengan hangat nan lezat yang tersaji di atas piring menemani diskusi sore itu dalam mengupas urgensi ideologi. Diskusi tersebut diisi oleh mantan mahasiswa yang sudah melanglang buana di dunia aktivis, jurnalis, dan kepenulisan. Beliau sering dipanggil mas Lukman. Seorang lelaki berusia hampir 40 tahunan, berperawakan kurus tinggi, dan berambut gondrong.

Pembahasan diskusi kali ini berjalan cukup gurih. Meskipun tema yang diangkat sudah terlalu mainstream. Lagi-lagi ideologi, lagi-lagi ideologi, lagi-lagi ideologi. Begitulah yang digeluti dalam dunia aktivis. Hal paling fundamental dari setiap pergerakan mahasiswa. Dari ideologilah muncul kesalahpahaman, muncul penghianatan, muncul pikiran-pikiran kritis yang biasanya hanya numpang eksis.

Sebenarnya latar belakang tema ideologi ini muncul didasari oleh beberapa fenomena yang ada di kampus (dunia nyata) maupun portal dunia maya. Di dunia kampus sendiri, ada beragam jenis mahasiswa yang sebenarnya salah konsepsi dengan pengertian ideologi. Baik para aktivis maupun akademis. Para mahasiswa yang biasanya orientasinya hanya kepada akademik, akan lebih cuek dengan apapun yang terjadi di kampus. Mereka pun cuek (tidak peka) jika ada penyelewengan dalam birokrasi kampus itu sendiri. Sedangkan untuk para aktivis, kebanyakan mereka sudah salah kaprah. Demo sana sini, tapi berujung bentrok dengan masyarakat karena menganggu ketertiban sosial. Padahal aktivis ini sebenarnya memperjuangkan hak rakyat, lalu kenapa mereka malah bergelut sendiri dengan rakyat. Sungguh, para pemimpin di singgasana pasti tertawa melihat kejadian seperti itu.

Dalam portal dunia maya. Beberapa hari yang lalu muncul laman website yang berisi tentang radikalisme kampus yang merusak ideologi. Sebenarnya tulisan tersebut dibuat hanya sebagai selentingan dalam permainan politik. Tidak ada yang patut dikhawatirkan. Ideologi itu bersifat abstrak. Ideologi itu buatan manusia. Apapun yang berkaitan dengan manusia pasti tidak seutuhnya sempurna. Ada beberapa perspektif yang menyebutkan jika ideologi tidak selalu benar, termasuk ideologi Pancasila. Pasti ada sekelompok orang dengan perspektif lain ketika memandang ideologi tersebut. Keluar dari ideologi yang sudah dipegangnya dulu bukan berarti penghianat dan dosa di mata Tuhan. Penghianat ideologi muncul hanya karena kesalahpahaman.

Semarang, 08 Maret 2016

3 tanggapan untuk “Mengeroposnya Ideologi”

  1. soo looongg longgg time ago.. berkutat dengan himpunan mahasiswa..heheh. saya termasuk yang aktif, dan merasa rapat2 mahasiswa itu ko' tidak aplikatif di dunia setelah perkuliahan ya?? tapi kalau untuk kegiatan kemahasiswaannya sangat berguna. kita terlatih berorganisasi, PD berbicara di depan umum, bersosialisasi, mengeluarkan pendapat.

    Suka

  2. Semua ilmu itu bermanfaat mb, mungkin rapat2 yang dulu pernah dirasakan belum berefek di masa sekarang. Tapi kan masih ada hari esok, pasti suatu saat ilmu keoorganasasian itu bermanfaat. Selalu melakukan yang terbaik apa yang kita pilih dan percaya. Hohoho :v

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s