Tak Berkategori

Rindu Ziarah

Setiap hari, tempat ini akan selalu dikunjungi oleh para peziarah. Baik dari daerah Kudus sendiri maupun luar Kudus. Semua berlomba dan berduyun-duyun untuk ngalap berkah kanjeng Sunan Kudus –salah satu dari sembilan waliyullah. Puncak kedatangan para peziarah biasanya terletak pada hari keempat dan kelima setiap pekan. Terutama pada Kamis malam atau malam Jum’at, tempat ini pun akan sesak oleh peziarah. Dalam agama Islam, hari Jumat adalah hari yang suci dan agung. Dimana pada hari itu, Allah membukakan pintu pengampunan dan ibadah selebar-lebarnya. Juga, hari yang mustajab untuk berdoa.

Bukan sebuah tempat mewah, karena tempat ini bukanlah makam para priyai. Bukan juga tempat yang rindang hijau bak taman bunga, karena ini bukanlah makam-makam yang apik seperti di luar sana. Sederhana, religius, suci, dan penuh unsur kejawen. Itulah gambaran penyambutan yang pas ketika memasuki area pemakaman Sunan Kudus. Batu-batu nisan berjejer rapi mengelilingi area pemakaman Sunan Kudus. Sampai terkadang bingung mau lewat mana. Karena kanan, kiri, depan, belakang adalah makam.

Di area pemakaman dalam dipenuhi nuansa putih nan suci. Nuansa tersebut tercipta karena adanya kain mori yang menghiasi seluruh sudut area pemakaman. Kain penghias tersebut dibentuk menjadi unthuk banyu (gelembung air), kompol, wiru, dan pyan (langit-langit). Semuanya murni garapan tangan. Kain mori diganti selama satu tahun sekali, yakni pada tanggal 10 Muharram. Pergantian kain terlebih dahulu diiringi dengan doa-doa kepada Allah SWT. Masyarakat sekitar Kudus biasa menyebutnya dengan istilah Buka Luhur.

Ukiran-ukiran khas Jawa juga tak ketinggalan menghias area pemakaman tersebut. Kayu jati yang menjadi tiang penyangga bangunan dipenuhi dengan ukiran-ukiran bunga klasik. Warna coklat yang khas kayu dan ditambah temaram lampu menambah keantikan dan kekhasan tersendiri. Ubin yang digunakan pun masih bergaya zaman dulu. Dengan warna coklat berpendar dan sedikit corak hitam. Tembok area pemakaman tidak dilapisi semen, melainkan dibiarkan begitu saja, sehingga keaslian tumpukan batu bata yang berwarna kemerahan benar-benar terlihat. Bangunan ini memperlihatkan kekokohannya tersendiri dengan gaya klasiknya.

Di sudut-sudut ruangan, berdiri rak-rak atau almari yang menanggun beban tumpukan buku, kitab dan alqur’an. Rata-rata buku tersebut adalah buku Yasin dan Tahlil. Karena buku dan kitab itulah yang menemani para peziarah untuk bermunajat kepada Gusti Allah.

Tak usah heran, di sekeliling makam Sunan Kudus akan ditemui para peziarah yang sedang duduk bersila, baik munfarid maupun berjamaah tengah khusuk melantunkan doa-doa kepada Gusti. Lelehan air mata atas segala pengharap terkabulnya doa tidak terhindarkan. Mereka telah tenggelam dalam doa dengan memanunggaling jiwa mereka. Disetiap pojokan dan pinggir ruangan dekat tembok akan diisi oleh para pejuang hafidz/hafidzoh yang tengah menghafal ayat suci Alqur’an. Suasana sakral dan khusyuk sangat kental dan terasa disini.

Disinilah tempat kami memendam rindu kepada Waliyullah, Rasulullah, dan Gusti Allah.

Sholallahualaa Muhammad…
Sholallahualaihi Wasallam…

4 tanggapan untuk “Rindu Ziarah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s