Tak Berkategori

Ketika ‘Mbak’ Berubah Menjadi ‘Ukhti’

Banyak hal baru yang saya temui saat menyandang gelar sebagai mahasiswa. Baik hal yang tampak maupun tidak, yang terdengar maupun tidak, yang bisa dirasakan maupun tidak dirasakan. Seperti hal-hal beginilah yang menyadarkan saya jika masa SMA saya  sangatlah kudet (dalam artian sebenarnya).

Ketika masih SD, SMP, SMA, kehidupan anak sekolah begitu statis. Berangkat pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 14.00 siang atau bahkan sore, dengan rentetan jadwal yang sudah dipatenkan oleh pihak sekolah. Fashion mereka pun standar, memakai seragam sekolah sesuai tata tertib. Hanya saja yang membedakan adalah aksesoris yang dikenakan seperti gelang, jam tangan, bando, handphone, dll. Aksesoris jugalah yang menciptakan terkotak-kotaknya setiap siswa, baik yang kaya, sok kaya, standar, tidak kaya, dan bukan kaya.

Kalau berbicara fashion di sekolah dan kuliah, tentu bukan barang baru lagi untuk dibahas. Sekolah berseragam, sedangkan kuliah tidak –meskipun ada beberapa jurusan yang mewajibkan mahasiswanya untuk berseragam hitam putih. Tinggal pilih aja fashion yang pas untuk kita apa. Mau gaya casual, resmi, hits, atau bahkan syar’i. Semua memiliki hak untuk memperjuangkan kebebasan berbusana, bertingkah laku, serta bertutur kata.

Berbicara soal tutur kata di kampus. Ada kejadian yang cukup membuat saya heran dan terkaget-kaget. Barangkali perihal ini sangat sepele, tapi tidak bagi saya. Penasaran lebih baik, daripada sesat di jalan bukan ?

Saat itu, saya menggunakan busana potongan, atas berupa bluss dan bawahan rok batik. Ditambah kerudung paris yang terjulur ke depan. Tiba-tiba ada teman yang memanggil saya dengan sebutan ‘ukhti’. Karena merasa bukan nama saya yang dipanggil, saya tidak menoleh ke arah sumber suara. Barangkali juga orang yang memanggil belum tahu nama saya (maklum masih mahasiswa bau kencur). Alhasil orang tersebut menghampiri saya dan menjelaskan jika yang dipanggil ‘ukhti’ adalah saya. Lalu, saya balik tanya, mngapa tidak memanggil mbak saja.

Dalam bahasa Arab, ukhti memiliki arti panggilan untuk saudara perempuan. Sedangkan akhi adalah panggilan untuk saudara laki-laki. Saya pun pernah menjumpai kata tersebut ketika mempelajari bahasa Arab di Madin. Selama 18 tahun, itulah kali pertama saya dipanggil ukhti. Sebenarnya, kehidupan masa kanak-kanak saya dihabiskan dengan mengaji di salah satu TPQ di desa. Kemudian setelah lulus, saya melanjutkan menuntut ilmu agama ke Madrasah Diniyah TBS Kudus, salah satu yayasan dari Arwaniyah. Lingkungan pondok pesantren sangat lekat bagi saya. Tetapi anehnya para teman-teman mengaji dan mbak-mbak pondok lainnya tidak pernah menyebut saya atau teman lainnya dengan kata ‘ukhti’.

Hal sederhana semacam inilah, yang terkadang membuat saya manggut-manggut dan geleng-geleng. Bukan senang atau marah, melainkan bingung. Karena kenyataannya, kata ‘ukhti’ sekarang telah mengalami pengkhususan kata, yakni (hanya) ditujukan untuk orang-orang berjilbab lebar (syar’i) atau para anak rohis. Seketika kata ‘mbak’ telah melebur menjadi ‘ukhti’.

Satu tanggapan untuk “Ketika ‘Mbak’ Berubah Menjadi ‘Ukhti’”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s