Tak Berkategori

Klitikan

Kedua tangan bersembunyi di balik loker meja. Mulut komat-kamit baca matra. Mata jelalatan kesana kemari mengawasi area sekitar, barangkali ada yang memergoki. Ketika semua dinyatakan aman dan pusat perhatian tertuju ke arah depan depan.

Krekkkkk….

Suara sobekan plastik tersebut meluncur dengan sukses, menyentuh setiap gendang telinga para penghuni kelas. Semua mata yang semula tertuju ke arah depan, seketika menoleh ke arahku. Memastikan jika sumber suara berasal dari tempat dimana aku berada. Hal yang aku lakukan adalah pura-pura pasang muka serius dan tidak menyadarinya, malah sempat bertanya; ada apa?

Syukurlah si Pak Guru masih fokus dengan spidol dan papan tulis, alhasil tidak menyadari suara kasak kusuk dari balik loker meja milikku. Teman-teman pun percaya jika suara itu tidak berasal dari tempatku duduk, akhirnya mereka kembali untuk fokus. Alhasil aku meluncurkan kembali aksiku. Membuka bungkus jajan yang aku sobek tadi, lalu memasukkan secara perlahan-lahan ke dalam mulut. Memastikan jika sentuhan gigiku tidak menimbulkan bunyi yang lebih berisik. Naasnya, teman sebelah bangkuku mengetahui ulah aksiku. Bukannya marah dan lapor ke  guru, dia malah memalak jajan yang aku makan barusan. Telapak tangan kanannya di arahkan kepadaku, meminta bagian dari jajan tersebut. Ternyata bukan dia saja yang menyadari polahku, teman belakang, depan, kanan, kiri, dan sebrang tak ketinggalan meminta jatah jajan yang aku punya. Akhirnya jajan berharga seribu perak itu aku bagikan satu per satu ke seluruh keras. Jiwa korsa sekali bukan.

Kejadian tersebut akhirnya berkelanjutan, menjadi agenda wajib di tengah suntuknya pelajaran saat guru mengajar. Sekarang pemasok jajan sudah semakin banyak. Semua teman-teman sudah siap sedia dengan senjata makanan seribu perak tersebut, yang nantinya akan dibagikan ke seluruh penghuni kelas demi kemasalahatan umat.

Kisah itu terjadi saat dua tahun silam. Dimana seragam putih abu-abu masih melekat. Saat ini, meskipun zaman telah berubah. Status siswa berubah menjadi mahasiswa. Anak sekolah berubah menjadi anak kuliah. Tapi tetap saja jiwa korsa untuk makan sembunyi-sembunyi di kelas tetap berjalan. Tipe jajannya pun tetap sama, yakni seharga seribu perak. Kali ini, klitikan yang menjadi korban saat di kelas adalah sebungkus kuaci.

Dijamin sebungkus kuaci renyah dan gurih ini rendah lemah dan kolestrol. Tidak menyebabkan gendut. Tentunya juga bersertifikat halal dan syar’i. Sayangnya cara makannya lah yang tidak halal.

Haha… Yoben…

Nb : klitikan (Jawa) sama dengan cemilan (Indonesia)

Satu tanggapan untuk “Klitikan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s