Tak Berkategori

Kayuh

Kayuhannya semakin kencang. Pedal sepeda yang telah diinjak tidak diberi ampun olehnya, terus diinjak agar sepeda itu terus melaju membuntuti truk di depannya. Truk di depan anak muda yang masih mengenakan pakaian seragam putih abu-abu lengkap adalah truk pengangkut tebu. Secara hukum fisika, ketika bersepeda di belakang truk yang bermuatan, maka kayuhan sepeda akan terasa jauh lebih ringan karena angin tidak melewati langsung di depannya. Seringan merentangkan kapas ke udara. Laju truk bermuatan tebu pun tak bakal mampu melaju cepat, jadi mudah saja membuntutinya.

Ada satu atau dua tebu yang terjulur keluar dari bak truk. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan anak muda itu untuk mempermudah kayuhannya. Tebu itu tersebut kini digunakan olehnya sebagai pegangan, sehingga sepedanya tidak perlu untuk dikayuh.

Di sela-sela menikmati sepeda melaju tanpa dikayuh. Ia berteriak, melolongkon suaranya di belakang bak truk. Tangan kirinya yang tidak sedang berpegangan tebu, ia rentangkan ke atas. Melampiaskan apa yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu. Pikiran anak muda itu berkelok, menuang kembali apa yang baru saja dialaminya.

Pekaaaaaattttttt!

Teriaknya kembali di balik kemudi sepeda. Sekarang teriakannya lebih menjurus ke amarah. Ada nada kekecewaan dan kekesalan yang mengurungnya. Mimik wajahnya bias sekali. Teman yang selalu menampung curhatannya telah menipunya di belakang. Bagai udang di balik bakwan. Kelihatan saja ia seperti bakwan biasa, tapi di baliknya ia memiliki senjata ampuh yang disembunyikan.

“Malih….. Kenapa aku begitu bodoh, menceritakan semuanya tentang Monah…”, teriaknya sekali lagi.

“Seharusnya bunga Edelweiss itu aku yang memberikannya”, kini volume suaranya semakin melirih di makan derungan mesin truk.

Semenjak temannya bercerita bakal ke Bromo, dengan segala jurus ia mendekatinya. Tujuannya bukan untuk ikut serta ke Bromo, melainkan meminta tolong untuk dibawakan bunga Edelweiss. Kabarnya, bunga tersebut adalah bunga kesukaannya Monah. Wanita yang telah menambat hatinya sejak membaca sajaknya di mading sekolah.

“Kenapa aku baru tahu jika kamu mencintainya juga Malih…….” Rutuknya.

Rantai sepeda yang ditumpanginya tiba-tiba putus. Alhasil ia terpelanting ke depan. Hampir saja ia terjatuh sebelum kedua kakinya menginjak tanah untuk memberikan keseimbangan. Tebu yang sedari tadi dijadikan pegangan ikut lepas dari bak truk dan terjatuh persis di sebelah sepedanya.

4 tanggapan untuk “Kayuh”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s