Tak Berkategori

Kayuh (2)

Tawanya tiba-tiba menggelegar dengan mata masih terkatup. Nyaris memecahkan gendang telinga siapa saja yang berada di sekelilingnya. Ribuan ilalang dan belasan jangkrik yang bersenandung ria itulah yang berada di sekelilingnya saat ini. Toh, mereka semua juga bakalan acuh dengan tawa miliknya, sekeras apapun itu!

Matanya mulai membuka perlahan. Rupanya ia tak ingin membuka matanya seketika. Dibukanya satu mata miliknya, bak seorang pemuda mengintip gadis pujaannya. Setelah dirasa aman dan sinar matahari tidak terlalu menusuk matanya. Ia kemudian membuka kedua matanya.

Senyumnya mengembang lagi. Barangkali ia berpikir telah mati pada saat terjatuh dari sepedanya. Nyatanya Tuhan masih baik. Ia masih diberi kesempatan untuk melanjutkan masa mudanya.

“Kamu nggak kenapa-kenapa kan?”

Ucapnya lirih pada sebatang tebu yang masih digenggam erat oleh tangan kanannya. Padahal tebu itulah yang menyebabkannya sekarang tergeletak di atas aspal.

“Ternyata aspal tak seempuk kasur ya” katanya dengan bibir tersungging ke atas.

“Andai Monah yang jatuh di lengan ini. Betapa bahagianya aku.” ucapnya kemudian seraya menoleh ke arah kanan, dimana jemarinya menggenggam sebatang tebu tadi.

“Hasan……”

Terdengar suara lantang milik lelaki bergema memanggil nama pemuda itu. Kayuhannya sangat cepat bak pembalap sepeda yang memburu garis finish. Rupanya sepeda itu memang diarahkan ke arah pemuda yang masih tiduran di tengah jalan sepi itu.

“Kau kenapa tidur di jalan?”

Hasan terperanjat. Ia segera memposisikan diri untuk berdiri. ‘Awww…‘ katanya lirih saat berusaha berdiri. Wajah hitamnya yang sering tertimpa sinar matahari juga menampakkan kernyitan di dahi.

“Hasan kakimu berdarah! Kau kenapa?” tanya lelaki yang berperawakan lebih tinggi dari Hasan.

“Ahh cuma lagi latihan akrobat sama sepeda” katanya sambil nyengir.

“Kau tidak lupa sama janjinya Bang Mail kan?”

Mendengar kata ‘Bang Mail’, Hasan segera mencari sepeda biru tua miliknya yang berada 3 meter di belakangnya -karena jatuh terpelanting. Melupakan memar dan darah yang menghiasi lututnya. Menebas rasa sakit dengan segera mengayuh kembali. Mengayuh untuk menepati janji.

2 tanggapan untuk “Kayuh (2)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s