Tak Berkategori

Mencari Titik Kesufian

 
 

“Aku bersaksi tiada cinta selain rindu dan Aku bersaksi Engkaulah kekasihku” – Syahadat Cinta

 
Begitulah pembukaan bab pertama dari buku Makrifat Cinta, karangan Candra Malik. Sungguh, maknanya dalam banget. Bukan sekedar cintamu pada sesama hamba, melainkan juga cintamu pada Rabb-mu yang selalu bertemu dengan kerinduan. Buku ini mengulas banyak tentang cinta dan rindu pada Tuhan dan manusia. Malah lebih pada berisi tulisan pengalaman spiritual dari sang penulis yang telah menyandang gelar sufi.
 
Saya sendiri sampai sekarang masih saja gagal memahami kekaffahan sufi itu sendiri. Otaknya masih cetek. Ibarat kata seperti remehan peyek yang ada di dasar toples. Menyelesaikan membaca buku Makrifat Cinta saja harus berbulan-bulan dan tentu sambil tertatih-tatih. Rasanya eman jika membaca pakai teknik skimming, banyak tafsir Al-Qur’an didalamnya. Membaca buku ini juga mengingatkan saya pada pelajaran nahwu di sekolah Madin dulu. Jadi, saya akan menjadi golongan yang merugi jika memperlakukan buku ini bak buku diktat kuliah yang teronggok berantakan di rak buku.
 
Jika mayoritas orang biasanya menemui bukunya baru penulisnya, kalau saya kebalikannya. Dan, saya rasa ini memang akan menjadi bagian nasib yang harus diterima dengan legowo. Nasib jika hidup saya akan banyak diisi cinta, kerinduan, dan kebaperan. Namun baper pada Tuhan kayaknya lebih mengasyikkan. 
 
Sebelum berjodoh bertemu dengan buku Makrifat Cinya, ternyata secara tidak sengaja saya sudah pernah bertemu dengan penulis buku tersebut yakni Candra Malik di acara Santren Ndelik di Semarang pas bulan Ramadhan tahun lalu. Itupun nggak ‘ngeh’ siapa sebenarnya beliau. Ketidaktahuan itu saya imami menjadi kebodohan akan ceteknya pengetahuan yang selama ini saya peroleh. Saat itu, topik yang diangkat juga tentang kesufian dan kerinduannya padaNya. 
 
Seperti gayung bersambut. Setahun setelah menghadiri acara Santren Ndelik, saya diberi kesempatan untuk bisa merasakan dan memahami lagi tentang kesufian  lewat bukunya Makrifat Cinta. Buku yang mengajak kita untuk mengenal cinta secara utuh, hakiki, spiritual, nyata dan tidak sekedar kontekstual.
 
Sampai pada detik dimana saya menuliskan tulisan ini, saya sebenarnya masih berusaha belajar merasakan kesuwungan atau kesepian. Lha kenapa kudu merasakan kesuwungan? 
 
Karena sejatinya manusia itu berada di titik Nol (kosong, tiada, suwung, sepi); ia ada tapi tiada.  Kita saja yang berpura-pura ramai, berpura-pura lupa akan sejatinya manusia yang mana lahir dan mati bersama sendiri dan sepi. Angka nol itu ada dalam susunan bilangan bulat, tapi di dalamnya tidak ada. Seperti manusia, ia ada di muka bumi, tapi sebenarnya ia hanya singgah sebentar di bumi. Bumi bukan tempat yang kekal untuk manusia. Pepatah Jawa menyebutkan; urip mung mampir ngombe.
 
Lalu sebenarnya apa yang engkau khawatirkan di muka bumi? Jika tubuhmu sendiri mutlak bukan milikmu.
 

2 tanggapan untuk “Mencari Titik Kesufian”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s