Tak Berkategori

Malaikat Kecil dan Surga

“Ibu nggak pa pa?”, tanya saya pada sosok wanita paruh baya yang beberapa detik lalu mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang terjadi akibat mobil Grand Livina hitam  menyerempet sepeda motor milik ibu tersebut. 

Wanita paruh baya itu hanya mengangguk-angguk kecil sambil menahan perih kakinya akibat tertindih sepeda motor. Dalam gendongannya ada seorang balita perempuan cantik yang menangis kejer -barangkali kaget atau juga karena ikut tertindih sepeda motor. Mau bantu menenangkan si balita tersebut, e malah nangisnya tambah kenceng. Tapi syukurlah, si pemilik mobil  yang menyerempet tadi turun dari mobil dan ingin bertanggung jawab. Setidaknya anak cantik tersebut ada yang memperhatikan dan segera bisa mendapatkan perawatan.

Beberapa selang hari berikutnya, ada berita kematian seorang anak kecil  yang rumahnya hanya selempar  batu dari Kos saya. Menurut sumber yang saya terima, ia meninggal karena saki, kurang tahu sakit apa. Tapi tetap saja mendengar seseorang anak kecil meninggal dunia rasanya campur sedih dan cemburu. Bagaimana tidak cemburu? Jika Tuhan menjanjikan surga di dalamnya, menjadikannya bidadari suci. Ahhh memang ia sudah harus menemui masanya. Tuhan lebih  menyayanginya dan sakit itu telah menjadi pengantar kematiannya.

Setelah beberapa saat mendengar kematian adek kecil tetangga Kos, lewat viral maya saya mendapatkan berita lagi mengenai kematian seorang anak perempuan cantik bernama Intan. Ia adalah korban dari tindakan pengeboman di salah satu Gereja di Samarinda yang dilakukan teroris biadab. Sedosa apakah malaikat kecil itu? Hingga jadi luapan kebencian para ekstremis agama yang overdosis kebiadabannya. Dan, pelaku pengeboman ternyata juga merupakan pelaku teror buku yang sempat menghebohkan beberapa tahun silam.

Sungguh saya tak ingin bercerita seberapa kejinya pelaku pengeboman itu, bagaimana kronologisnya, mengapa teroris kian menjamur, ataukah soal agama yang dianutnya. Saya masih berpegang teguh dengan ayat Allah yang berbunyi “Lakumdinukum waliyadin” (untukmu agamamu, untukku agamaku).

Bagi saya, ia tetap anak kecil yang harus diberikan kasih sayang, pendidikan, dan lingkungan yang baik. Bukankah waktu, tempat kelahiran seseorang dan bagaimana lingkungannya (agama dan sosial) sudah ketetapan dari-Nya?

Nasi sudah menjadi bubur. Kayu bakar telah menjadi abu. Para malaikat kecil itu kini sudah berada di medium lain. Sudah menjadi bidadari kecil penghuni surga. Tapi, apakah menjadi penghuni surga adalah sebuah jaminan kebahagiaan?

Dalam pikiran dangkal saya; barangkali Dek Intan masih ingin merasakan pelukan sang ibu, bermain dengan teman-teman sebayanya, tertawa di depan Gereja dan melihat segala kelucuan yang ada di muka bumi. Tapi Dek, setidaknya kamu terhindar dari kerumitan di negeri ini, terhindar dari penghianatan dan kebohongan yang mewarnai eloknya muka bumi. Kamu bahagia ya disana, kami semua sayang padamu. Ternyata Tuhan lebih memuliakanmu untuk menjadi bidadari penghuni surga.

Satu tanggapan untuk “Malaikat Kecil dan Surga”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s