Tak Berkategori

Buku dan Segala Kebetulan yang Mengekorinya

Ada sebuah kebetulan baru yang kini saya temukan. Kebetulan yang tidak direncanakan, seperti perjumpaanku denganmu (eaaa wkwk). Beberapa buku terakhir yang telah rampung saya baca ternyata selalu ada kaitannya dengan apa yang pernah terjadi beberapa tahun silam. Entah suratan nasib ataukah takdir, yang pasti ini bagian skenario Tuhan.
Sebelumnya buku ‘Gitu AJa Kok Repot’ Gus Dur yang mengulas tentang pluralisme dan toleransi beserta humor-humor segarnya yang telah rampung dibaca satu bulan yang lalu mengingatkan lomba mading yang digelar PP Madipu TBS tahun 2010. Secara tidak sengaja isi mading yang saya angkat tidak jauh berbeda dengan isi buku tersebut. Dari pengulasan tentang Gus Dur itulah mading pertama yang saya bikin bersama teman-teman sukses menyabet juara 1. Kalau ingat mading, jadi ingat Pak Mashudi yang dawuh kalau nggak boleh gambar manusia secara utuh, padahal isi madingnya malah penuh dengan gambar orang. Punten pak, hehe.
 
Selanjutnya ada buku Makrifat Cinta yang juga rampung saya baca, meskipun bacanya agak alot. Review singkat tentang buku ini sudah saya tulis diblog pribadi (promosi haha). Menurut saya isi buku ini memang agak berat jika dipahami secara tekstual saja, karena isinya lebih ke Ketuhanan. Buku inilah yang secara tidak sengaja mengingatkan saya pada pelajaran nahwu dan shorof waktu masih ngaji di madin (pelajaran yang menurut saya susah banget kala itu). Dulu pas ngaji nahwu shorof, teman sekelas umurnya beraneka ragam, dari yang sudah lulus SMA, SMA, SMP dan saya kebagian jadi murid dengan skor umur paling kecil. Ya maklum, kalau dulu pas diajar agak pahpoh wkwk. Selain kebetulan di atas, ternyata saya pernah berjumpa dengan penulisnya Candra Malik dalam acara Santren Ndelik tahun 2015. Dan, beliau pun sedikit banyak membahas soal kesufian seperti yang dibahas dalam bukunya.
 
Terakhir, buku Pesona Kearifan Jawa yang membahas tentang Serat Cabolek dan lagi-lagi soal kesufian. Buku ini tidak sengaja saya beli di salah satu bazar dengan alasan murah, tapi isinya tidak murahan. Serat Cabolek mengulas kisah Ketib Anom yang merupakan salah satu ulama dari Kudus dan Haji Mutamakin. Kebetulan ini saya ketahui malah dari orangtua saya. Secara tidak sengaja saya menanyakan Serat Cabolek ke ibu, beliau langsung menimpali “Cabolek? Kisahnya Mbah Mutamakin?”
 
Saya langsung menganggukkan kepala membenarkan ucapan ibu dan disusul dengan kalimat, “Dulu pas SMP kan pernah diajak abah ziarah ke makam Mbah Mutamakin di Pati kan?”
 
Lhadalah jebul tokoh yang ada di baca ternyata pernah saya jumpai, meskipun dengan dimensi lain. Saya kira kisah Serat Cabolek adalah pengetahuan baru yang saya peroleh, ternyata  selama ini semua sudah dekat dengan saya, mengekor dalam perjalanan hidup saya. Ahhh lagi-lagi soal kebodohan dan ceteknya ilmu yang membuat saya blunder sendiri. Terkadang manusia melihat dan mecari ilmu dari yang jauh dari dirinya, padahal di dekat dirinya pun masih banyak ilmu-ilmu yang tercecer dan masih belum terserap.
 
Dan percakapan pemungkas dengan abah ibu ditutup dengan membuat janji untuk mengajak ziarah lagi kesana lagi dengan dalih karena dulu pas diajak belum ngerti apa-apa alias bodoh malah sekarang kadar kebodohannya semakin meningkat tajam :p ).

4 tanggapan untuk “Buku dan Segala Kebetulan yang Mengekorinya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s