Tak Berkategori

[Behind The Scene] KKL FISIKA 2016, DONE !

Tulisan ini dibuat dengan menggunakan sudut pandang ‘Aku’ dan semua ditulis berdasarkan mata dan batin si ‘Aku’. Tentunya ini sebagai bentuk apresiasi atas segala kenangan yang tertoreh di dalamnya.  
Yeah, akhirnya kata ‘Alhamdulillah’ dapat terucap setelah berbulan-bulan mendadak jadi rentenir. Pegang duit segepok dengan nol lebih dari enam biji adalah pengalaman yang tidak tanggung-tanggung. 
Deg-degan?

Pasti.

Grogi?
Yes. 
Panik? 
Yaiyalah.
Itu duit rakyak bok, kalau ketilep sekoin saja bisa berabe urusannya di akhirat. Nggak jadi dapat emperan surga dong. Tapi di balik itu semua, terselip perasaan bangga. Bangga karena rekeningnya pernah jebol ratusan jeti –nyaingin transferan tante-tente DPR Senayan. Haha…
Cerita KKL milik Fisika Angkatan 2014 itu panjang bak lokomotif kereta. Di awali dari rapat yang bertele-tele cuma buat memutuskan biro mana yang harus dipilih sampai kejadian tidak terduga perkara tempat duduk. Semuanya berbalut rapi dalam KKL Fisika 2016.
Aku yakin, semua panitia disini tidak kalah heroik dengan para Pandawa atau Superhero lainnya. Semuanya bekerja dengan ikhlas, sabar, ulet, tekun dan sedikit grundel karena pikniknya kurang banyak.
Detik-detik keberangkatan…
Jika sehari sebelum keberangkatan teman-teman semua pada sibuk packing dan gaduh di group whatsapp perkara perlengkapan yang mau dibawa. Aku masih harus berkutat dengan tulisan abstrak yang baru saja dicorat-coret dosbing. Prinsipnya selama piknik KKL anti buat mikirin hal gituan, alhasil semalaman begadang merevisi abstrak. Keesokan harinya mata bengkak dan kemrungsung buat packing
Pukul 11.00 siang, ada panggilan telepon. Intinya sang penelpon mengingatkan kalau bendahara harus ambil duit KKL di bank buat diserahin ke biro. Beberapa jauh hari memang sudah buat janji dengan biro, terkait pembayaran KKL selanjutnya, tapi bukan pukul 11.00 melainkan pukul 13.00. Karena sudah dioyak, mau tidak mau aku bergegas ke bank (padahal rencana mau bayar hutang tidur sebentar). Emenjing…. Sampai di bank BNI, banknya penuh lautan manusia. Duh Gusti, ini antrinya berapa lama?
Dengan masih pasang muka bloon, pak Satpam menghampiriku, memberikan nomor antrian. Seketika dunia terhempas, mata sedikit melotot, mulut sedikit ternganga melihat angka 170, sedangkan pada saat itu nomor antrian yang sedang terpampang dilayar masih berangka 81. Allahu Akbar, pantas saja di depan bank banyak gembel-gembel bergaya mahasiswa duduk di emperan bank karena tidak dapat tempat duduk.
Daripada berdiri sampai jamuran di bank, alhasil aku memutuskan untuk pulang ke kos. Memanfaatkan untuk makan siang, lanjut packing dan motoin koper –buat pasang DP di BBM mbel! Wkwk. 
Jarum jam sudah menunjukkan angka satu lebih setengah. Dengan gaya optimis, aku bergeas mengambil kunci motor dan melaju ke bank (lagi). Omo, sama saja ternyata masih antri duapuluh nomor lagi. Tapi setidaknya nggak parah kayak tadi. Syukurlah masih bisa duduk cantik di depan teller dan segera menghubungi mamas biro supaya segera meluncur ke bank. 
Ketika semua urusan peruangan sudah beres, tugas selanjutnya adalah mengikuti upacara pelepasan sebelum keberangkatan. Berhubung aku berdiri dibelakang, jadi jangan tanyakan isi materi yang disampaikan oleh bapak Ketua Jurusan. Terus aku ngapain? Foto-foto lahhh…
Semua peserta KKL sudah lengkap, saatnya meluncur ke lokasi tujuan Jakarta – Bandung. Diawali dengan basmallah dan tiga bus pun melaju dengan tenang, tentram dan aman sentosa. 
Sekitar pukul 18.00, bus berhenti di salah satu rumah makan di Kendal untuk makan malam dan sholat. Nah, disini ada sedikit pengalaman tak mengenakan. Bukan perkara rasa makanan atau pelayanan. Melainkan dapat sedikit teguran gegara hendak sholat di area luar rumah makan. Berhubung mushola di area rumah makan penuh sesak, alhasil ada sebagian teman yang berinisiatif sholat di Masjid yang terletak disebrang rumah makan. Ketika mereka semua sudah berhasil menyebrang ke Masjid dan aku hendak menyusul, tiba-tiba ada salah satu pegawai rumah makan yang memberi peringatan dilarang sholat di luar area karena harus menyebrang jalan pantura. Tau sendiri kan jalan pantura itu yang lewat kendaraan macam apa? Jadi, aku putar balik dan sholat di mushola rumah makan. Meskipun sesaknya pakai kebangetan.
Setelah itu, kami semua melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan pantura sepanjang malam. Sepajang malam, di bus Iron Man masih aman terkendali. Semua penghuninya sehat; ada yang bercanda dan bercengkrama dengan teman sekursi, ada yang langsung tidur, ada juga yang sempat main kartu, barangkali ada juga yang lagi mikirin tugas organisasi. But, all is well.
Cuma saja, si ‘Aku’ ini yang sedikit ribet. Ketika semua teman-temannya sudah pada terlelap, ia masih sibuk ngutak-ngutek hape-nya dan nyari colokan listrik buat charge. Sialnya, setelah berhasil ngecharge beberapa menit, hape-nya tetap nggak mau nyala.  Dengan panik, ia kembali menaiki kursi bus buat nyari tempat colokan, lah dalah jebul charger-nya kurang temerap. Setelah berhasil, ia kemudian duduk kembali. Bukan untuk tidur, melainkan posting quote di instagram di tengah kesuwungan bus dan laju bus yang terus menantang malam.
Day 1 …
Sampai di TMII kira-kira pukul 03.00 pagi. Semua teman langsung turun dari bus dan menuju ke Masjid At Tin, lebih tepatnya ke area kamar mandi. Berhubung semalaman kurang tidur, jadinya hampir nyaris tertidur di kamar mandi masjid. Kamar mandinya bersih dan adem sih :p
Masjid At-Tin TMII
Setelah berhasil beberes dan bersih-bersih, agenda selanjutnya adalah sarapan yang dilanjutkan foto-foto. Kali ini, biarlah foto yang bercerita ya…

Intinya kalau udah foto-foto, lupa akan segala hal.
Perjalanan selanjutnya menuju PP IPTEK di TMII (khususon mahasiswa pendidikan fisika). Disini kami belajar banyak hal mengenai alat peraga, tapi kayaknya pada tidak bisa mengoptimalkan alat peraga deh, lhawong sebagian tidak ada operatornya, malah pada mengoptimalkan foto bersama kakang dinosaurus.
Bersama Prof. Sarwi (Dosen Fisika Unnes)

Tapi disinilah akhirnya foto satu angkatan terbingkai dalam satu lensa kamera. Chayooo…
Pendidikan Fisika 2014
Objek selanjutnya yakni ke Monas (Monumen Nasional). Sebenarnya, agenda seharusnya bukan ke Monas, melainkan ke salah satu instansi pemerintah (lupa). Tapi karena suatu hal, akhirnya objek kunjungan diganti ke Monas.
Sebelum ke Monas, kita ke Masjid Istiqlal terlebih dahulu untuk menunaikan sholat Dhuhur. Kita KKL juga sekalian tur masjid, haha. Barangkali untuk orang sentimentil seperti Aku, kunjungan ke masjid-masjid mempunyai daya tarik tersendiri, baik secara visual maupun spiritual. Setiap masjid di muka bumi ini pasti memiliki nilai histori tersendiri. Apalagi bisa sholat di Masjid Istiqlal yang katanya paling gede se-Asia Tenggara.
Beberapa momen yang terekam di Masjid Istiqlal.
Momen ngambil gambarnya pas banget wkwk
Usai sholat, kami semua langsung diarahkan ke Monas dengan jalan kaki. Pikirku jaraknya hanya selempar koin receh atau seperti dari kos ke kampus. Jebulan, jaraknya udah kayak ngelakuin Sa’i dari Shofa ke Marwah. Tahu sendiri kan suhu udara Jakarta berapa derajat Celcius, bisa dibayangi bagaimana gembelnya kami semua menyusuri Kota Metropolitan Jakarta. 
Sampai di pelataran Monas, panasnya tambah ngaudzubillah. Kulit bisa langsung belang-belang bak zebra cross. Tapi namanya juga generasi kekinian, bagaimanapun kondisinya ya tetap bisa cekrak-cekrek sambil ngasih cengengesan. 
Model Monas 😀
Memasuki Museum di Monas, kami disuguhi dengan berbagai aneka ragam lukisan dan miniatur dari ujung Sabang sampai Merauke. Bukannya mencuri ilmu dengan megamati dan menikmati di museum, kami semua malah pada tepar. Gelosoran di lantai tanpa dosa…
Disini mulai timbul kecemasan, teman-teman sudah pada ogah buat jalan lagi balik ke parkiran bus di dekat Istiqlal. Akhirnya bus pun mencari lokasi parkiran yang sekiranya dekat dengan Monas.
Kami semua ke parkiran bus sudah tidak lagi jalan kaki, melainkan diantar odong-odong yang sudah disediakan petugas.
Antara bahagia, kecapekan, sedih, emosi, grundel akhirnya kunjungan di Jakarta selesai dan dilanjutkan terbang ke Bandung. Di Bandung kami semua menginap di Hotel Hyper In. Sampai di depan hotel kami semua disambut oleh guyuran hujan dan syukurlah kopernya selamat dari guyuran hujan. Selanjutnya, kami check in mengambil nomor antrian. Namanya bukan liburan kalau sampai hotel cuma numpang teler doang. Usai bersih-bersih, teman-teman banyak yang heboh keluar masuk kamar, naik turun ke lobi hotel, main kartu, ngerumpi di bawah. 
Aku pun demikian. Main ke kamar tetangga. Ngrumpi. Numpang nyemil. Balik kamar lagi, terus molor. 
Day 2…
Bandung Paris van Java. Begitulah tagline yang paling terkenal di kota Kembang ini. Dan, disinilah kami berada, yang akan menjadi mojang Bandung seharian. Haha…
Usai menyelesaikan sarapan dan juga foto ala-ala girlband­, rombongan segera cus ke objek pertama di pagi hari ini. Berhubung kita lagi KKL (Kuliah Karo Liburan), jadi ya harap maklum kunjungannya agak berbau intelek-intelek gituh. Objek pertama adalah Pudak Scientifik Bandung, tempat pembuatan alat-alat peraga untuk pendidikan.
Disini teman-teman bisa belajar bagaimana proses pembuatan alat praga dari awal, yakni yang masih berbentuk biji plastik, sampai pada tahap finishing atau packing. Karena ini merupakan kawasan pabrik, jadi ada beberapa tempat yang tidak boleh dijepret.

  
Setelah puas menimba ilmu di Pudak. Objek selanjutnya yang kita tuju adalah Cibaduyut. Bagi para Srikandi Fisika alias calon emak-emak, inilah surga yang dinanti-nantikan. Baju, tas, sepatu, boneka, semua terhampar dengan harga yang lumayan miring. Tapi, bagi aku sendiri, di tempat ini jadi temat yang kurang menyenangkan dan memberikan kesan buruk. Awal mulanya aku dan teman-teman lagi duduk di salah satu cafe. Tiba-tiba tanpa babibu (sekitar satu setengah meter dari tempat aku duduk) ada adegan seorang lelaki dewasa dengan perawakan sangar dan gede menyiram lelaki yang duduk di seberangnya dengan air bekas cuci tangan. Disusul dengan adegan tinju alias jotos. Kalau lihat adegan Chriss John yang lagi tarung di atas ring si aku bakalan sorak-sorai bergembira, lha ini preman yang nggak tahu asal muasalnya. Alhasil aku langsung ngacir lari kembali ke bus. Ohya aku lupa, ini Bandung bukan Semarang, apalagi Kudus. Katanya hal-hal semacam ini -yang bergesekan dengan norma-norma- sudah biasa di kota ini.
Lupakan kejadian tadi. Mari kita lanjutkan perjalanan Trans Studio Bandung. Aku paling tidak sabar menantikan ini. Rasanya pengen balas dendam pas jaman SMP yang nggak bisa naikin semua wahana di Dufan Ancol karena heboh ketakutan. Alhasil pulang-pulang nyesel, jauh-jauh kesana, bayar mahal, malah nggak naik wahana.
Pertama yang dicicipi adalah Sky Pirates. Tujuannya biar bisa lihat seluruh isi Trans Studio Bandung itu kek gimane, maklum ‘wong ndeso dolan kutho’ jare kancaku haha. Sekalian membidik wahana apa yang selanjutnya dijelajahi.
Sky Pirates
Pilihan kedua jatuh kepada wahana Jelajah. Kita disini basah-basahan kena air. Awal naik kapalnya si flat, kayak menyusuri sungai biasa. E jebul ternyata pas melewati jurang dengan sir terjun yang katanya tingginya 13 meter, jantung berasa mau copot. Selama naik wahana kapal, bukan mikirin jantung yang bakal kembang-kempis terjun bebas, tapi malah mikir hape sama camdig bakal selamat dari air nggak ya? Dan alhamdulillah selamat.
Wahana selanjutnya yang kami sambangi adalah Dunia Lain. Pertama kami masuk di sambut dengan penjaga palang pintu –mas-mas yang pakai kostum jubah bak malaikat pencabut nyawa. Awalnya ia pasang muka cool, tapi matanya lirak-lirik kesana kemari. Jebul pas lewat di depannya, ia malah pura-pura jatuhin diri di depan kami, seketika kata ‘kampret’ menggaung di langit-langit. Sumpah pengen dijitak kepalanya ini orang. Penilaian pribadi tentang wahana Dunia Lain di TSB tidak begitu semenyeramkan di pikiran, mungkin gara-gara kita naik kereta ya, tinggal duduk manis. Malahan menurutku lebih menakutkan ketemu mas palang pintu di depan tadi.
Kemudian kami menaiki wahana-wahana yang menguji adrenalin lebih tingggi lagi. Seperti Giant Swing, Vertigo, Dragon Riders, Negeri Raksasa. Wahana-wahana seperti ini dijamin membuat siapapun penumpangnya lebih dekat dengan Tuhan. Disini akan merasakan sendiri jurang antara hidup dan mati yang lebih dekat dari urat nadi. Sebelum naik wahana, pasang muka songong, pas permainan dimainkan teriak-teriak nggak jelas sambil baca istighfar terus menerus. Setelah turun udah berantakan bentuk wajahnya. 
Puas dengan itu semua (meskipun kecewa nggak bisa naik Yamaha Racing Coaster, tapi yasudahlah) kami semua balik ke bus. Sholat. Makan malam. Beli oleh-oleh. Lalu, pulang!
Jebul efek songong dan sok kuat naik semua wahana berdampak setelah satu jam di bus. Mulut tiba-tiba pengen gumoh. Jalan sempoyongan. Kepala mumet. Badan udah kacau balau. Dan, aku akui Nurul teler. Hahahaha 
Sampai disini aku tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Semua nampak gelap, gelap, dan gelap. Buka mata tiba-tiba bus sudah berhenti di depan Mushola dan jarum jam menunjukkan pukul 04.30 WIB. Dua jam kemudian sampailah kita di gerbang Kampus tercinta Unnes dengan selamat sentosa adil dan makmur. 
Gunungpati, 10 September 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s