Tak Berkategori

Jas Kuning dan Kerudung Merah

Tulisan ini berkisah tentang mimpi yang berada di pundak dua sosok srikandi. Bukan sekedar membawa mimpi atas dirinya, melainkan juga orangtuanya, temannya, orang-orang yang menyayanginya dan organisasinya. Setiap usaha akan memberikan ulasan senyum yang setimpal di kemudian hari. Mereka percaya itu.
Organisasi yang sedang berada di pundakku dan kawanku bukanlah organisasi yang megah dengan kerlap-kerlip prestasi sana-sini. Bukan juga organisasi dengan dipenuhi orang-orang yang pandai beretorika. Organisasi ini baru berdiri tiga tahun. Ibarat bayi, ia baru saja menuntaskan pembelajaran penting dalam hidupnya, yakni berjalan. Jadi inilah saatnya untuk mulai merintis prestasi. Menyuntikkan semangat untuk terus berkarya, itulah tujuan sebenarnya.
Berawal dari keisengan stalking lomba Karya Tulis Ilmiah di internet, akhirnya kami membidik satu poster yang sering muncul. Poster tersebut milik anak-anak FKH UGM yang sedang menggelar Lomba KTI Nasional Metamorfosa UGM 2016, dengan tema yang diangkat mengenai agrokompleks. Setelah dilihat dan diamati jika waktu deadline-nya cukup lama, alhasil kami menjatuhkan pilihan ke LKTI Metamorfosa ini.
Awalnya kami sekelompok ada tiga orang; dua anak fisika dan satu anak teknik. Berhubung ada beberapa hal permasalahan, jadi sekelompok yang semula tiga orang waktu pengiriman abstrak berubah menjadi tinggal dua orang (anak fisika semua). Kami berdua tidak ada basic sama sekali di bidang pertanian. Hanya berbekal mencari info sana-sini dari internet dan observasi ke desa seberang, jadilah sebuah karya tulis yang berjudul “Pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan teknologi vertiaquaponik melalui media tanam dan budidaya ikan”.
Terbentuknya judul tersebut juga tidak langsung makbenduduk. Berulangkali kami konsultasi ke dosen pembimbing (berasa jadi anak skripsian wkwk) dan dicorat-coret sana-sini. Proses pembuatan karya tulis tersebut dilakukan pada saat liburan semester ganjil. Memang sebuah impian harus rela dibayar dengan mengorbankan kesenangan. 
Ada cerita menarik bagaimana bisa melakukan observasi di desa sebrang. Saat itu, kami lagi sibuk mencari informasi di internet terkait aquaponik. Tiba-tiba ada salah satu websiteyang memberikan informasi jika di Semarang ada salah satu desa yang disebut sebagai Desa Aquaponik, desa tersebut adalah Desa Kandri di Gunungpati. Seperti dapat oase di tengah gurun pasir, kami pun bersemangat untuk mencari tambahan data pendukung dengan observasi ke desa tersebut. Toh, desa Kandri masih berada satu kecamatan yang sama dengan Sekaran (lokasi kampus Unnes). Cuma butuh waktu 25 menit untuk sampai ke Kandri. 
Berbekal nama pemilik website yang bertuliskan ‘Abah Lukman’ dan GPS, kami berdua meluncur ke desa Kandri. Padahal cuma ke desa sebrang, tapi ada adegan nyasar juga yang membuntuti kami. Kami malah nyasar ke Desa Wisata Kandri dan disana menjumpai ibu-ibu yang lagi aerobik. Yasudah dengan tampang polos, kami tanya dimana lokasi Desa Aquaponik Kandri, ternyata masih jauh dari lokasi desa ini. Sesampai di perumahan Kandri yang disebut sebagai Desa Aquaponik kami bingung lagi. Lalu, siapa yang bakal kita temui?
Awalnya kami tanya ke salah satu warga disana dan ditunjukkan rumah salah satu warga yang mengkoordinir program aquaponik disini. Ketika kami sambangi pintunya terkunci, barangkali sang pemilik tidak berada di rumah. Alhasil kami tanya saja rumah pemilik website yang bernama ‘Abah Lukman’ itu. Pas tanya nama ‘Abah Lukman’ malah diketawain.”Lukman itu anaknya mbak”, ujar bapak-bapak yang sedang kami tanya. 
Setelah mendapatkan alamat rumahnya. Kami langsung bergegas ke rumah beliau. Pertama kali lihat kami, beliau tampak syok. ‘Ini anak wadon bisanya sampai nyasar-nyasar kesini’, mungkin dalam batinnya seperti itu. Tapi, alhamdulillah kami disambut dengan hangat setelah mengutarakan maksud kedatangan kesini. Dua hari setelah itu, kami diajak keliling perumahan untuk melihat aquaponik yang dibudidayakan oleh warga.
Terhitung empat kali kami bolak-balik ke Desa Kandri. Gara-gara itu pula kami berdua sering nge-drop. Keluar masuk puskesmas pun kami alami. Mulanya Lina yang sakit, keesokannya giliranku yang sakit. Itu terjadi juga pada saat kami berangkat Jogja. Lomba dalam keadaan kurang begitu fit itu sangat menyiksa.
Perjuangan kami bolak-balik ke Kandri dan Puskesmas terbayar ketika mendapatkan kabar jika kami masuk finalis 20 besar. Itu tandanya kami bakal berangkat ke UGM dan presentasi di depan para juri. Perjalanan kami pun tidak semulus jalan tol. Urusan akomodasi keberangkatan ke Jogja juga bikin mumet. Tapi alhamdulillah banyak teman-teman, jurusan, dan dosen yang ikut membantu. 
Kami berangkat ke Jogja dengan menggunakan bus dan dilanjutkan dengan BRT. Ngomong-ngomong, terimakasih buat dosen pembimbing yang telah mempermulus biaya perjalanan dan ketua jurusan Fisika yang mempermudah urusan akomodasi tanpa ribet bikin proposal. Nuwun Bapak… 🙂
Juga buat teman-teman yang sudah direpotin selama di Jogja. Nike, Nabila, Nurul, Nafa, Magda, yang rela jadi tukang ojek. Sykron jazakillah.. Wkwk
Ada kejadian menarik semalam sebelum acara presentasi digelar.  Bukannya istirahat ke kos, malah diculik Nike sama Magda buat nonton orasi di jurusan Teknik Geologi UGM. Berhubung di jurusan teknik, jadi sejauh mata memandang kaum adam ada dimana-mana. Sekalian cuci mata sih ya, haha….
Setelah balik dari orasi, kami menginap di salah satu kos teman yang ada di Jogja. Sialnya kami berdua jatuh sakit lagi. Semalaman suntuk saya berusaha tidur dulu dan kemudian belajar untuk presentasi, tapi kenyataannya tidurnya bablas sampai pagi. Ada sedikit yang mengecewakan dari panitia, sebelumnya kami tidak diberitahu siapa yang akan presentasi. Kami pikir semua anggota kelompok yang bakal presentasi. Jebul pas TM diberitahu cuma salah satu doang. Alhasil aku lah yang maju, karena suara Lina lagi ilang entah kemana. Bangun tidur aku lihat ada salonplas nempel di kaki. Lhadalah ternyata punya temen gembel perhatian benget kayak gini. Makasih mbel… *cium dari jauh* :p
Pendekar berjas kuning dan berkerudung merah pun siap beraksi di hari H. Kami mendapatkan nomor urut ke 5 untuk presentasi. Meskipun sebelum presentasi bolak-balik ke kamar mandi buat buang ingus, tapi alhamdulillah semua berjalan lancar. Pertanyaan dijawab dengan baik. Tapi groginya itu loh yang nggak bisa dikondisikan dengan baik.
Bersama salah satu juri LKTI Metamorfosa 2016

Usai semua finalis presentasi, saatnya pengumuman siapa pemenangnya. Juara pertama diraih oleh Undip, juara kedua diraih oleh UIN Jember, juara ketiga diraih oleh UGM dan juara keempat diraih oleh Unnes. Kami lebih suka menyebutnya Juara Harapan 1 wkwk.
Apaun hasilnya, kepercayaan akan hasil tak akan menghianati kerja keras selalu tertanam. Itulah hasil yang setimpal atas usaha kerja keras. Teman-teman yang menjadi finalis juga memilik usaha dan kerja keras yang luar biasa. Sungguh Tuhan telah memberi hamba-Nya seadil-adilnya, secukup-cukupnya dan sepantas-pantasnya.
Perjalanan di Jogja ditutup dengan jalan-jalan dan cekrak-cekrek di Malioboro. Semoga bisa mendapatkan moment yang lebih menakjubkan untuk merangkai pengalaman. Selamat berjuang!
Kalah rapapa, yang penting bisa dolan Malioboro haha
Yk, 15 Oktober 2016

2 tanggapan untuk “Jas Kuning dan Kerudung Merah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s