Tak Berkategori

Dipaksa Pulang Buat Nulis Lagi

I’m flying. I’m like bird. I’m like peterpan. Fell free. Free. Free…

Setelah sedikit banyak mengurangi kegiatan blogging. Aku bisa kembali sepenuhnya menjalani kehidupan yang biasa ini. Bangun tidur, sarapan, berangkat kuliah, pulang kos, makan, sesekali stalking kandidat jodoh, baca buku, ngelesin anak orang, menyusun ide buat karya tulis, nonton drakor, menulis laporan, sesekali juga menulis di blog (meskipun nggak sesering tahun kemarin), tidur.

Aku memilih menepi di dunia hiruk pikuk grup kepenulisan (grup Odop maupun grup Hipwee). Tapi tenang aja, terkadang aku masih suka tiba-tiba muncul dan seperdetik kemudian lenyap, kayak hantu gentayangan. Memang mengurangi kegiatan di dunia maya sedikit membuat pikiran lebih longgar, deadline-deadline yang bertumpuk seperti tumpukan sampah lenyap seketika. Meskipun kata banyak motivator kondang; kalau hidup mengalir saja seperti tinja nggak bakal bisa meraih sukses, karena nggak ada target. Ah tapi aku kan manusia yang terkadang jenuh juga menjalani rutinitas.

Pernah terlintas di benak, jika ‘sukses’ itu bonus dari kerjakeras. Malaikat Malik nggak bakal nanya d ikubur kita jadi orang sukses atau nggak, yang ditanya ya amal perbuatan. Jadi ya dijalani saja hidup ini, berusaha bermanfaat bagi sesama.

Karena saking jauhnya aku merasakan kebebasan tanpa deadline menulis di blog. Aku lupa bagaimana cara menikmati menulis. Bagaimana menulis sekali duduk tapi hasil tulisannya berbobot. Seperti dulu yang bisa nulis cerpen sekali duduk. Lha sekarang? Jangankan nulis cerpen, nulis caption instagram aja memakan waktu berjam-jam. Kenikmatan menulis tiba-tiba raib. Apa kalian juga pernah mengalaminya?

Tapi sepertinya sekarang aku perlahan mulai memaksa lagi mengumpulkan puing-puing cinta untuk istiqomah menulis. Jebul, aku ya merasa tersakiti dan sedih bingitsss ketika ada wacana bakal di depak dari grup kepenulisan.

Kalau dalam percintaan sih diibaratkan sudah lama tidak mesra-mesraan, seketika diajak putus ternyata masih ada rasa sayang yang dalam. Begitulah perasaanku terhadap menulis.

Sekarang, aku akan pulang. Ke rumah yang telah menungguku untuk ku jamah. Aku tidak ingin idealis anak muda yang menyala seperi kompor elpiji ini membunuh keistiqomahan dalam menulis. Aku butuh belajar. Karena hidup yang hidup adalah bermanfaat bagi sesama. Semoga tulisannya perlahan mulai bisa bermanfaat.

Sejatinya rumah tetap menjadi tempat paling nyaman untuk menuntaskan kenangan. Eh tapi, kan niat awal blog ini dibuat emang buat ajang curhat. Bukan buat berceramah untuk mengajak masuk surga. Kok adek bingung bang…

Intinya kalau jenis tulisannya lagi bener bisa diambil hikmahnya. Tapi kalau tulisannya ngawur kayak gini tinggal nyuci aja. Lebih berfaedah. Heuheu

Satu tanggapan untuk “Dipaksa Pulang Buat Nulis Lagi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s