Tak Berkategori

Perempuan, Kekerasan, Kebodohan, dan Pelecehan

Secara kodrat Tuhan, manusia ada dua jenis; laki-laki dan perempuan. Meskipun beda kelamin, keduanya punya hak untuk bereksistensi di bumi -yang masih saja diributkan bentuk bulat atau datar. Dua jenis manusia yang sudah dituliskan dalam Al-qur’an untuk hidup berpasang-pasangan. Saling melengkapi dan menemani satu sama lain dengan sejajar.

Tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi menjadi laki-laki ataukah perempuan. Kecuali menjadi keduanya, karena sudah menyalahi kodrat Tuhan. Dimata Tuhan tetap sama. Amal dan perbuatan yang menentukan di akhirat.

Ketika Adam dan Hawa diturunkan di bumi, menjadi titik permulaan eksistensi manusia. Berkembang dan beranakpinak. Dimana jumlah perempuan dan laki-laki sudah tak terhitung. Banyaknya kepala manusia yang ada di muka bumi, berbanding lurus dengan jumlah permasalahan yang dihadapi manusia. Terutama pada kaum perempuan, yang terus-terusan dikerdilkan oleh lingkungannya.

Ingat saja pada zaman Firaun, dimana bayi perempuan direnggut haknya untuk tetap hidup. Di Indonesia pun demikian, lagi-lagi perempuan menjadi korban atas kejamnya setiap zaman. Pada zaman sebelum kemerdekaan, hak-hak perempuan untuk mentas dari kebodohan tidak ada. Perempuan hanya dikapitalisasi oleh kaum laki-laki biadab untuk menuntaskan hasrat nafsunya. Kemudian muncullah para pejuang wanita yang memperjuangan hak-hak kaumnya. Sering dikenal dengan emansipasi wanita, dengan pelopor Raden Ajeng Kartini.

Lalu apa kabarnya dengan zaman modern sekarang? Apa perempuan sudah selamat dari kebodohan, kekerasan, dan juga pelecehan?

Kenyatannya jika kasus penganiayaan terhadap perempuan semakin tinggi. Meski emansipasi sudah berkibar, banyak perempuan berpendidikan dan berkarir cemerlang yang sudah bisa berdiri tegak dan menunjukkan taringnya, tetapi masih ada sejumput perempuan yang masih terkungkung hak dan kebebasannya.

KDRT, pelecehan seksual, deskriminasi antar sesama perempuan menjadi sumbu panas jika sebenarnya perempuan belum seoenuhnya ber’emansipasi’. Coba lihat ajang-ajang audisi kecantikan yang sering ditayangkan di televisi, dimana cakupan cantik telah dipersempit dengan kaki jenjang bak egrang, tubuh ramping bak emping, dan berkulit putih. Iya, perempuan telah dikomersalisasi. Kalau ndak nurut sama itu ya jangan mimpi bisa pakai bikini sambil melambaikan tangan di atas catwalk dan ditatap seluruh mata dunia.

Terkait pelecehan seksual yang dialami kaum perempuan, sedikit atau banyak  pasti ada yangmengalami. Tapi mereka memilih diam, karena sudut pandang di masyarakat kita kini masih terdoktrin jika mendapatkan ‘pelecehan seksual’ berarti ia telah ‘hina’. Padahal mereka butuh dukungan moril dari lingkungannya untuk menyembuhkan trauma. Uluran tangan dan semangat hidup juga sangat dibutuhkan bagi mereka, seakan ingin ada yang berkata di telinganya jika ‘all is well’. Siapa juga sih yang mau mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari lawan jenisnya?

Saya sebagai perempuan pun demikian. Diam-diam pernah menjadi korban dari pelecehan seksual. Sangat lama saya memendam trauma itu sendiri. Bahkan ke orangtua saya enggan mengungkapkannya.

Pertama, saat saya masih duduk di SD. Bagian bawah kemaluan saya pernah diusap oleh penjual sosis langganan saya yang jualan di depan masjid. Padahal saat itu pakaian saya tertutup dengan menggunakan busana muslim. Lancang sekali bapak penjual sosis yang kira-kira berusia setengah abad itu. Seketika saya lari ke rumah dan nangis sejadi-jadinya (saat itu saya bilang ke ibu kalau habis berantem sama temen).

Kedua, saat saya duduk di SMP. Tiba-tiba ada seorang bapak yang mendatangi saya dan kawan-kawan saat menunggu angkot pulang sekolah , kemudian menujukkan kemaluannya di depan kami. Betapa terkejutnya kami dan kami pun lari kembali ke sekolah dengan panik.

Selain itu, saya juga pernah mengalami kejadian serupa saat naik sepeda pulang sekolah. Tukang becak yang sedang berhenti di pinggir jalan menujukkan kemaluannya di depan mataku. Kali ini aku berusaha tenang, tidak lari terbirit-birit. Ingat petuah seorang guru saat mengalami kejadian yang pertama.

Orang-orang seperti itu memiliki penyakit kelainan mental. Jika si korban merasa panik dan takut, maka aksi sang pelaku dikatakan berhasil. Memang kejadian-kejadian seperti di atas sangat menyakitkan dan melukai harga diri saya sebagai wanita. Tapi harga diri saya akan lebih terluka lagi jika saya hanya diam dan membiarkan perempuan lainnya menjadi korban.

Sangat sulit kembali menata harga diri yang terluka berkeping-keping. Sampai saat ini pun saya masih berusaha menjadi perempuan yang kuat dan bisa berdiri di atas tiang-tiang kehormatan. Melupakan kejadian tersebut sepenuhnya tidaklah mudah, meski sudah hampir 10 tahun berlalu. Tetapi berusaha berdamai dengan masa kelam dan berbagi kebaikan dengan teman perempuan lainnya menjadi obat mujarab agar tidak trauma berlarut-larut.

Ohya, saat ini pun saya berusaha menghindari naik becak saat sendirian, apalagi beli sosis limaratusan yang sering dijual di sekolah-sekolah itu~

10 tanggapan untuk “Perempuan, Kekerasan, Kebodohan, dan Pelecehan”

  1. Mmm ini kasus udah 10 tahun silam, dulu pas kejadian itu masih bocah, sekarang nggak tahu masih mangkal dibelakang smp atau ndak. Tapi ada kawan juga yang meengalami kejadian itu bulan lalu di sampangan semarang, ini baru diusut orang psikopatnya yang mana.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s