Tak Berkategori

[Summer] 1- Anja : Excuseer

“Excuseer.. Excuseer.. Excuseer”

Muak. Itulah kata yang pas untuk mendengar permintaan maaf keluar dari mulut Neth setiap kali memulai atau mengakhiri percakapan. Aku pikir kata maaf itu tidak pernah absen diucapakn Neth kepadaku selama satu tahun ini. ‘Lama-lama ini orang kayak mpok Hindun versi Belanda’.

“Sudahlah Neth, aku disini baik-baik saja.”

“Excuseer Anja, semua salahku” ucap Neth diujung telepon.

“Cukup Neth, nggak usah minta maaf lagi”

Segera aku tutup percakapanku dengan Neth sebelum kata ‘Excuseer’ meluncur dari mulutnya lagi. Bukan karena aku memarahinya sebab dia mengirim CV ku ke salah satu rumah sakit elit di Singapura yang menjadi tempatku bekerja saat ini tanpa sepengetahuanku. Tapi rasa bersalahnya yang tak kunjung padam membuat aku bingung bagaimana menghadapinya.

Disatu sisi aku juga menyesalkan perbuatannya. Gara-gara dia harapanku bekerja di Indonesia di usia muda pupus sudah.

“Dok 20 menit lagi operasinya dimulai” ucap suster yang tiba-tiba berdiri di depan mejaku.

“Oh, iya terimakasih”

Dengan gerakan secepat kilat aku mengambil jas hijau yang khas untuk operasi dan segera berlari menuju ruang operasi di lantai 5. Sebenarnya aku sangat tidak menyukai lantai 5 di rumah sakit ini. Lebih tepatnya lorong menuju ruang operasi. Walau terlihat mewah dan modern, tapi suasana yang diciptakan sangat tidak bersahabat. Seakan lorong ini menjadi jalan kemana kau melangkah, kehidupan atau kematian. Suara panik, putus asa, harap-harap cemas, rasa kekhawatiran, semua tergambar di lorong ini.

“Dok cepatlah, dokter Antonius sudah menunggu.” Sekali lagi suster itu memperingatkanku untuk segera mempercepat langkahku.

“Ini operasi berat kedua dan sangat urgent yang akan kau lalui bersama kami, aku percaya gelar dokter-mu akan kau gunakan dengan sebaik-baiknya.”

Itulah kalimat pertama yang diucapkan dokter paruh baya yang akrab dipanggil dokter Antonius atau dokter An. Walaupun beliau sudah senior di bidang kedokteran, tapi beliaua tahu bagaimana membangkitkan semangat para juniornya. Itulah mengapa saya begitu takzim kepada beliau.

“3 menit lagi operasi dimulai”

Semua dokter dan suster yang sudah berada diruangan operasi mulai mempersiapkan alat-alat operasi. Tidak lupa monitor jantung terus dipantau untuk melihat kondisi pasien ketika dioperasi.

‘Ya Tuhan, seberapa berat operasi ini tolong lancarkanlah dan pasien ini tolong beri kesembuhan’

Empat jam hampir berlalu. Bagi kami para dokter yang sedang melakukan operasi terasa sangat cepat, masih membutuhkan satu jam lagi untuk proses penjahitan dibagian yang dioperasi. Tapi barangkali bagi mereka di luar ruang operasi, menunggu selama empat jam adalah waktu yang sangat lama. Seakan waktu berhenti hanya untuk memenuhi rasa kecemasan dan kehawatiran. Tiap detik menit dan jam mereka lewati dengan lantunan doa untuk sang pasien yang dioperasi. Mereka khawatir jika semuanya akan berakhir di lantai lima ini.

“Sepertinya kita berhasil.” bisik dokter An kepadaku sebelum membuka pintu ruang operasi untuk memindahkan sang pasien.

Ketika pintu dibuka, seketika dua orang- laki-laki dan perempuan- yang berbeda generasi langsung beranjak dari kursi mendekati kami.

“Bagaimana dok?” tanya wanita paruh baya tersebut dengan suara sendu tanda habis menangis.

“Bapak Hartanto segera dipindahkan di ruang ICU, ibu tidak usah khawatir, semuanya berjalan dengan baik, berkat doa istri dan putranya.” Jawab dokter An menutup pembicaraannya dengan wanita tersebut.

Tidak seperti biasanya dokter An memberikan petuah panjangnya hanya kepada penunggu pasien. Apalagi menunjukkan rasa simpatinya. Walaupun saya baru satu tahun disini jangan remehkan saya soal menghafal karakter para dokter disini.

“Saya tahu pasien ini bukan pasien sembarangan. Yang pasti beliau bukan pejabat yang sering anda tuduh kena karma karena korupsi.” ujarku dengan nada skeptis.

“Kau lebih pantas jadi peramal.” Sindir dokter An.

Tenagaku yang cukup terkuras habis diruang operasi tadi membuat perutku terus bersenandung sebagai bentuk protes kelaparan. Jadi disinilah aku sekarang, di depan meja kantin rumah sakit dengan mata ingin melahap semua yang ada. Apalagi bau ramen yang khas terus menyapa hidungku.’Lupakan diet Anja, ini patut dirayakan dengan makan sepuasnya’

Tak butuh waktu lama, kini satu mangkuk penuh ramen, sepiring pancake dengan saus greentea, juz mix stroberi jeruk dan puding yang lembut siap bertempur dimulutku.

“Ehmmm permisi, boleh saya duduk disini?”

Seketika pandangan mie ramen dan pancake teralihkan dengan suara berat milik laki-laki tersebut. Tentunya dengan muka seperti ikan koi yang memalukan.

“Bagaimana dok?”

“Ohya silahkan” Sergapku segera.

Dok?. Dia tahu kalau aku dokter? Wah, berarti aku cukup terkenal juga ya di rumah sakit ini, walau nggak pakai atribut dokter, toh mereka tetap mengenalku.

“Kelihatannya dokter kelaparan setelah operasi tadi.” Jawab si pria tersebut dengan nada yang menyindir.

“Operasi? Bagaimana bisa tahu tadi saya habis operasi?”

“Ternyata memori seorang dokter bedah lemah juga ya, kasihan para pasiennya”

Sialan. Ini orang minta dilempar sepatu apa?

“Maaf, barangkali kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku padanya.

“Pertanyaan yang aku tunggu-tunggu.” jawabnya penuh percaya diri.

Melihat cara dia bicara, aku yakin dia ini tipikal bossy. Cara dia memandangku mengisyaratkan kalau posisi harkat dan martabatnya lebih tinggi daripada diriku.

“Jangan-jangan kamu selama ini jadi penguntit?” sergapku tak mau kalah.

Ramen yang dikunyahnya hampir saja menyembur keluar ketika mendengar ucapanku tadi. Aku yakin dia pasti sudah memata-mataiku sebelum kita bertemu di kantin rumah sakit ini.

“Seharusnya saya tadi tidak menebak pertanyaanmu.” Dia menjawab pertanyaanku dengan tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Jarum jam menunjukkan angka 05.00 sore. Terdengar suara gawaiku bergetar. Sebenarnya itu adalah waktuku untuk pulang, tapi kali ini tanda alarm itu berarti aku harus kembali ke ruang ICU untuk mengecek pasien yang aku operasi tadi.

“Permisi saya harus pamit.”

“Bukannya ini jam dokter pada pulang?”

“Ada pasien yang perlu aku tangani”

Segera aku bergegas meninggalkannya untuk kembali ke ruang perawatan. Tapi sebelum aku beranjak, ada satu kalimat yang membuat aku merasa sedikit ganjal.

“Terimakasih untuk usahanya dok.”

***

Kalimat itu terus berputar-putar diotakku. Mencoba mencerna apa maksud dibalik ucapan terimakasih tersebut. Jam menunjukkan pukul 10.00 malam. Angin berhembus kencang di luar apartemen. Andai aku bisa menitipkan pesan ke angin, akan aku titipkan salam rinduku untuk ayah ibu, kedua adikku, sahabatku dan dia. Mataku semakin terasa berat. Sebelum benar-benar memejamkan mata aku berusaha menjawab kepenasaranku sendiri.

“Ah barangkali karena aku dokter, jadi banyak yang mengucapkan terimakasih.”

3 tanggapan untuk “[Summer] 1- Anja : Excuseer”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s