Tak Berkategori

[Summer] 2 – Gaza : Lobi Tuhan

Melihat bola mata seorang wanita yang habis menangis seharian rasanya ada luka yang ikut tergores dihatiku, apalagi wanita paruh baya disampingku ini adalah Ibuku. Bukan berarti aku seorang lelaki lemah. Aku hanya mempunyai rasa iba yang kadarnya mungkin sangat overdosis. Aku bisa sangat murka jika melihat oranglain membawa kucing hanya dengan memegang leher atas kucing. Tapi kali ini posisinya berbeda, aku harus melihat ibuku menangis seharian dipelukanku dan tidak mungkin aku murka. Aku tidak pernah melihat ibu serapuh ini, dia sangat pandai mengontrol emosinya.

“Gaza, bagaimana kalau ayahmu nanti pergi” kata ibu sambil menapat pintu ruang operasi dengan rasa cemas.

Akhirnya satu kalimat itu keluar dari mulut ibu setelah dia menangis lama.

“Ayah pasti kuat bu, dia pasti akan menemui kita lagi, apalagi ayah sekarang punya cucu baru, pasti ayah akan bangun untuk bertemu dengan cucunya”

Tangis ibu mulai mereda, tapi ketika mendengar kata cucu baru, ibu mulai menangis lagi.

“Ibu juga belum melihat Erga dan kakakmu Gisha. Dia juga belum sadar dari komanya kan?”

“Tapi detak jantungnya stabil bu, tadi Gaza sudah menelpon yang di Jakarta. Semua akan baik-baik saja bu, yakinlah, ibu selalu bilang untuk berdoa jika aku takut” ucapku pada ibu.

Aku menatap bola mata ibu lagi, berusaha menenangkannya. Memang benar, inilah cobaan yang paling berat dalam keluargaku. Sebagai anak lelaki tunggal dari tiga bersaudara, akulah yang harus mengambil alih semuanya. Memegang kendali bisnis ayah yang di Jakarta maupun Singapura.

Ceklek. Pintu ruang operasi perlahan terbuka. Beberapa dokter keluar meninggalkan ruangan operasi. Begitu juga dengan dokter An dan dokter muda disampingnya. Dokter An adalah kepala dokter di rumah sakit ini. Seketika aku dan ibuku berdiri menghampirinya.

Ibuku sibuk bercakap-cakap dengan dokter An menanyakan kondisi ayah pasca operasi. Tapi aku lebih tertarik dengan dokter muda disamping dokter An.

‘Sejak kapan dia bekerja disini? Kenapa aku baru kali ini melihatnya? Siapa namanya? ‘

Pertanyaan-pertanyaan tentang dokter muda itu berhamburan dikepalaku. Rasanya seperti menemukan oase di gurun pasir. Menyejukkan melihat matanya. Aku yakin hatinya pasti akan sesejuk matanya.

Ini diluar dugaanku. Aku terpana kepada gadis yang berprofesi dokter, dengan make up nyaris luntur akibat tersapu keringat waktu operasi dan dengan balutan baju hijau yang khas untuk operasi, bukan gaun pesta mahal dengan make up ala artis.

Entah sejak kapan dokter An dan dokter muda itu pergi. Yang pasti di lorong rumah sakit ini hanya ada aku dan ibuku.
‘Aku harus menemui dokter An sekarang’ gumamku.

***

“Gaza jangan buat ulah di rumah sakit!” kata dokter An dengan nada sedikit membentak.

“Ayolah dok, kau pasti tahu dengan sedetail-detailnya tentang dia. Bukannya dokter yang menyuruhku segera mengakhiri masa bujang selama 33 tahun ini.” Rengekku padanya.

“Tapi bukan dia!” bentaknya lagi.

“Jangan-jangan dokter mau nikahin dia?” sindirku.

“Ayah dan kakakmu Gisha belum sadar, kau malah mikir yang macam-macam”

“Kalau dapat istri dokter kan bisa sekaligus merawat ayah sama kak Gisha” Jawabku enteng.

“Kau nyari istri apa perawat?”

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar bentakan dokter An barusan. Walau cukup alot, tapi akhirnya aku mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya, sedetail-detailnya, sedalam-dalamnya tentang dokter muda itu. Namanya adalah Anjara Putri Lesmana.

Setelah aku menemui dokter An, selanjutnya aku memutuskan untuk ke kantin sebentar sebelum menemui ayah di ruang ICU. Tak disangka tak diduga. Anjara berada di kantin. Mungkin ini yang dinamakan jodoh Tuhan.

“Ehmm boleh saya duduk disini?” tanyaku dengan sopan dan berwibawa.

Sumpah. Ini pemandangan yang bukan aku minta. Melihat wajahnya melongo seperti ikan koi dengan mulut penuh ramen membuat perutku geli. Sebenarnya aku ingin tertawa lebar, tapi itu hanya akan memperburuk keadaan.

“Bagaimana?” tanyaku sekali lagi.

“Oh ya silahkan” jawabnya ketus, tak seramah saat menjawab pertanyaan ibuku di lorong ruang operasi tadi.

Jujur aku bingung mau memulai percakapan kita seperti apa. Aku kini duduk di depannya menikmati pemandangan indah saat dia makan.

Baru saja percakapan berjalan 15 menit. Suara alarm handphone-nya memotong pembicaraan kami. Lebih tepatnya menghentikan pembicaraan kami. Dia bilang harus kembali untuk mengecek para pasiennya. Tak lupa aku pun mengucapkan terimakasih turut berjuang menyelamatkan nyawa ayahku di ruang operasi tadi.

***

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Tapi mataku sangat sulit untuk terpejam. Otakku kini dijejali dengan ide konyol bagaimana menyusun skenario pertemuan demi pertemuan dengan dokter Anja.

Mulai dari,
1. Membuatnya jadi dokter yang menangani ayah. Agar sewaktu-waktu bisa menjadi amunisi untuk menghubunginya.
2. Makan siang di kantin rumah sakit.
3. Sering menengok ayah, siapa tahu dia lagi mengecek kondisi ayah.
4. Minta bantuan dokter An.
5. Melobi Tuhan agar sering-sering unyuk mempertemukannya.

Dan poin ke enam Gaza belum sempat memikirkannya karena dia sudah terlelap.

2 tanggapan untuk “[Summer] 2 – Gaza : Lobi Tuhan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s