Tak Berkategori

[Summer] 4 – Gaza : Seminar

“Nak bangun, ini sudah pukul 5, katanya kamu ada seminar?” suara ibu sayup-sayup menyapa gendang telingaku.

Aku sebenarnya sudah bangun tapi mataku masih dalam keadaan tertutup. Sulit rasanya untuk membuka mata. Barangkali karena tidur sangat larut dan posisi tidur di sofa yang sangat tidak nyaman. Sedikit cerita, ayahku tadi malam kondisinya drop dan jantungnya harus dipacu dengan pacemaker.

“Segera ambil wudhu dan sholat, nak.” Sekali lagi ibu memperingatkanku tapi tetap dengan nada yang lembut. Alhasil aku memaksakan diri untuk bangkit dari sofa dan menyeret kakiku ke kamar mandi.

“Bu, nanti dokter ngecek ayah jam berapa?” tanyaku pada ibu setelah membereskan sajadah untuk beribadah.

“Maksudnya Dokter Anja?”

‘Ah ini kenapa ibu pas banget tebakannya’ batinku.

“Bu..kan bu.” Segera aku pamit ke ibu untuk pulang ke apartemen sebelum semburat merah dipipiku ini tertangkap matanya ibu.

Butuh sekitar 15 menit untuk sampai ke apartemen. Masih sisa 45 menit untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat ke acara seminar perusahaan. Mandi, sarapan, cek berkas kantor, cek email -barangkali ada rapat mendadak- menjadi rutinitas keseharian pagi hari setelah ayah dirawat di rumah sakit. Semua berkas kantor aku suruh diantar ke rumah, karena tidak memungkinkan jika harus bolak-balik kantor rumah sakit. Sebelumnya aki selalu menenggelamkan diri dengan kesibukan kerja dan mengasingkan diri dari dunia hedonisme.

Aku sadar, bisnisku tergolong usaha peritelan dan itu artinya bisnis itu tidak jauh dari dunia kehedonan. Itu sangat menguntungkan, melihat masyarakat baik golongan menengah ke atas atau ke bawah sangat gandrung dengan yang namanya belanja. Semua wanita pasti akan hilang kendali jika sudah berada di mall. Melihat peluang seperti ini, mengapa harus disia-siakan, let’s take and try it.

Pukul 07.30 aku sudah sampai di depan pusat perbelanjaan GM, tepatnya di mall milikku sendiri. Setelah aku parkirkan mobil di basemen, langkah kakiku segera menuju ke aula mall, dimana seminar akan berlangsung.

Aku rasa ini masih acara opening. Jadi tidak ada salahnya aku keliling-keliling terlebih dahulu.

“Gaza…”

Seketika aku menoleh mencari dimana sumber suara yang memanggil namaku.

“Oh Fredo, apa kabar bro?” sapaku akrab pada laki-laki di depanku yang takk lain adalah kawan karibku di SMA.

“Pembicara kok malah keluyuran.” ucapnya dengan logat jawanya.

“Cari angin dulu. Lha loe tumben mau datang di acara seminar gue?”

Fredo ini bukanlah tipe yang suka duduk manis manja mendengarkan petuah-petuah para pembicara. Atau opsi lain, dia memiliki tujuan lain untuk datang ke forum seminar semacam ini.

“Ahhh itu..” ada jeda lama ketika Fredo menjawab pertanyaan skeptisku.

“Mmm, loe pasti tahu lah apa yang gue cari..”

“Cewek?” tanyaku penasaran.

“Yappp”

“Who?”

“One of all speaker who from Rotterdam.” jawabnya dengan senyuman jahilnya.

“Wait..wait.. All speaker have male gendre. Jangan-jangan kamu sudah melenceng dari…”

“Sempelengan loe ngatain gue guy” Potong Fredo seketika. “Loe kan yang punya seminar, masa nggak tahu kalau ada speaker cantik dari Belanda yang ngisi seminar.”

“Maksud loe, dokter Jo?” tanyaku semakin heran.

“Duhhh Gaza, efek jadi jomblo karatan 33 tahun kayak gini ya? Dokter Jo batal hadir, nah sebagai gantinya dia diganti sama asistennya dokter juga, namanya Neth kalau nggak salah. Ini yang ngadain acar seminar loe atau gue si?” ucap Fredo dengan nada penuh sindir.

“Sorry, gue lagi sibuk ngurus bokap yang sakit. Jadi semuanya gue serahin ke staff.” balasku sebagai tanda pembelaan.

Seorang moderator laki-laki berperawakan tinggi sudah memegang kendali acara seminar. Satu per satu pembicara dipanggil untuk datang ke stage. Sebelum masuk ke stage, aku mencoba berkenalan dengan speaker cantik dari Belanda yang bernama Neth itu sebagai bukti janjiku pada Fredo untuk mendapatkan infonya mendetail.

Please welcome, Mr. Gaza Airlangga Hertanto. Give applouse for him… Ucap sang moderator.

Terimakasih.. Balasku pada semua audience dengan membungkukkan sedikit badan sebagai tanda hormat.

Tiba-tiba mataku menangkap sosok wanita yang tidak asing untuk disapa. Rambut dikuncir ekor kuda, bluss lengan panjang warna pitch dan celana jeans panjang. Tuhan telah memberikan jalan takdir ini kepadaku. Aku yakin camera yang dipegangnya sedang membidik kearahku. Aku tatap saja lensa kameranya, seoalah akulah yang menjadi fokus dalam kamera tersebut. Walau jarakku dengan dia sekitar 5 meter, tapi aku bisa menangkap semburat merah dipipinya saat aku tatap lensanya.

Seminar berjalan dengan lancar. Ditengah-tengah pemaparan materi, aku sempatkan untuk meliriknya dan menatapnya sepersekian sekon. Lagi-lagi wajahnya memerah. She’s very cute dan inner beauty-nya terpancar sekali. Aku sukses membuat dia panik dan salah tingkah. Sebelum mengakhiri seminar, aku mengubah susanan acara seharusnya dimana seharusnya penanya mengacungkan diri, tapi untuk kali ini saya tunjuk.

“Mmm saya pilih..” pura-pura berpikir untuk mencari siapa penanyanya karena aku sudah tahu dari awal siapa yang seharusnya ditunjuk.

“Perempuan yang duduk dibangku baris nomor dua dan menggunakan baju warna pitch.” ucapku dengan yakin.

Dia terlihat shock.

“Yang duduk disana bisa berdiri dan maju ke depan untuk memperkenalkan diri dan mengajukan pertanyaannya.”

Dia memang wanita hebat. Aku seribu persen yakin jika dia belum mempersiapkan pertanyaanya. Wajahnya masih terlihat schock yang tidak bisa menipuku. Tapi dia tetap nerdiri dan melangkah tegap maju ke atas stage. Apakah aku melakukan hal yang kejam???

“Terimakasih atas kehormatannya untuk bisa bertanya di acara seminar Internasional ini.” Ucapnya tenang.”Perkenalkan nama saya Anjara Putri Lesmana, perantau asal Indonesia.”

Seketika semua audience medadak bersiul berjamaah dan bertepuk tangan ketika mendengar kata Indonesia. Mereka beranggapan jika saya yang notabene berasal dari Indonesia sama dengan negara asal penanya.

“Langsung saja pak, saya bertanya terkait kesehatan seperti yang telah dipaparkan dalam seminar ini. Bapak sendiri memiliki perusahaan yang cukup besar dengan jumlah karyawa ribuan dan Bapak juga memiliki rumah sakit yang terbilang elit dan mewah dikawasan Singapur ini. Bagaimana mengcovery asuransi kesehatan seluruh karyawan Bapak jika rumah sakit milik Bapak saja terbilang cukup mahal untuk kalangan menengah ke bawah. Padahal karyawan Bapak dari golongan bawah seperti OB dan Cleaning Service juga memrlukan asuransi kesehatan, sedangakan mereka harus membayar cost yang mahal untuk mendapatkan asuransi yang layak di rumah sakit Bapak. Bisa dijelaskan Pak?”

Sial…umpatku.

Dia menyampaikan pertanyaannya dengan lugas dan tenang. Seperti telah mempersiapkan pertanyaan jauh-jauh hari. Tapi ini kesialan bagiku. Aku tidak punya pikiran jika dia secerdas itu dalam membuat pertanyaan. Aku baru menyadari kalau ada karyawan yang dari golongan menengah ke bawah ikut mencari nafkah dan berhak mendapatkan asuransi dari rumah sakit G Hospital itu sendiri.

Aku berusaha menjawab pertanyaan dengan selugas mungkin, tanpa bertele-tele dan tepat sasaran. Walau ada kesalahan yang aku tutupi, tapi disini saya harus membangun brand pemimpin yang cakap dan handal menghadapi permasalahan apapun.

Suara tepuk tangan memenuhi aula sebagai tanda berakhirnya seminar hari ini. Semua peserta sudah meninggalkan kursinya, begitu juaga dengan Anja.

“Ehmm, permisi Neth.” Sapaku pada Neth yang masih duduk di backstage.

“Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?”

“Panggil Gaza saja, kelihatannya kita hampir seumuran.” jawabku sambil menggulung lengan kemeja ke atas dan dijawab dengan anggukan mantap.

“Titipkan salam saya pada dokter Jo” ucapku, dan juga buat Anja, batinku dalam hati.

“Hei Neth, maaf aku pergi sebentar untuk menemui seseorang.” Tiba-tiba suara yang pastikan milik Anja menggema di ruangan ini.

“Who?” tanya Neth padanya.

“Temannya dia yang aku sering ceritakan padamu itu, dia besuk bakal ke Singapur, ada project dari perusahaannya dan terus mau ketemu sama aku.” ucap Anja dengan wajah berseri-seri. Sungguh dia semakin cantik. Tapi siapakah si dia itu?

Really??”

“Ehemm permisi saya permisi keluar dulu” akhirnya kalimat itu ampuh untuk memotong percakapan mereka berdua.

“Uppss maaf, aku kira tadi Bapak sudah keluar.” jawab Anja enteng.

Aku yakin Anja pasti marah padaku, gara-gara ulah konyol untuk menunjuk dia jadi penanya. Aku harus mencari tahu siapa si dia itu sebenarnya??

Satu tanggapan untuk “[Summer] 4 – Gaza : Seminar”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s