Tak Berkategori

Kepada Usia 27

Pertama,

“Bangun pagi, masih pakai daster ala emak-emak, nyiapin sarapan untuk anak dan suami, beberes rumah, kemudian berangkat kerja.”

Kedua,

“Bangun pagi, ngrecoki ibu yang lagi ada di dapur, menyiapkan segala perlengkapan untuk bekerja, kemudian berangjat kerja.”

Jika saya disodori dua pilihan demikan. Secara insting dan keinginan akan memilih menjalankan kehidupan di usia 27 tahun dengan pilihan pertama. Kenapa? Saya ingin segera menyempurnakan ibadah saya dengan menikah. Memutus beban orangtua dalam menanggung dosa saya. Seperti yang diketahui umumnya, seorang wanita yang belum menikah maka tanggungjawab masih dipegang oleh ayahnya.

Lalu bagaimana keadaannya jika harapan tidak sesuai kenyataan? Kembali lagi ke Tuhan, karena semua sudah qodratullah. Semua sudah digariskan secantik dan seanggun mungkin oleh Tuhan. Tidak ada yang lebih baik yang mana untuk pilihan pertama atau kedua. Tugas manusia adalah menjadi manusia sebaik-baiknya. Memantaskan diri mulai dari sekarang akan lebih diperlukan untuk menyambut usia ke 27, daripada meresahkan sesuatu yang belum pasti terjadi.

Seperti saat usia sebelum-sebelumnya. Saya selalu memiliki catatan kecil alias sepak terjang apa yang saya ingin lalui di usia tersebut. Menjadi wanita dengan usia 27 tahun, tidaklah sama dengan wanita berusia 26/25/24/dst. Prioritas mulai sangat tampak. Karir, pendidikan, keluarga, anak menjadi satu paket yang ingin digenggam wanita berusia matang 27 tahun.

Muda, dewasa, dan mandiri. Tidak lagi mengirimkan pesan berantai kehabisan uang saku ke ayah. Tidak lagi merengek manja meminta dibelikan ini itu. Begitulah gambaran besar bagaimana kelak saya di usia 27. Semoga mimpi-mimpi yang mulai saya rajut dari sekarang, sudah menemui titik terang pada usia tersebut. Tinggal memetik buahnya.

Tetapi ada satu hal yang saya takutkan wahai usia 27. Aku tidak berani mengeksekusi atau bahkan memberi jawaban menjadi apa kelak. Apa yang aku pelajari di bangku kuliah sekarang, belum tentu sesuai dengan pekerjaan yang aku lakukan di masa depan.

Teringat petuah bijak, “hadapi masa sekarang dengan sungguh-sungguh dan jangan khawatirkan masa depan”. Saya akan berusaha hadir untuk kehidupan saya yang sekarang. Namun juga tetap menyiapkan masa depan semampu saya. Entah kemana dan bagaimana saya bermuara. Saya hanya pandai berdoa tentang karir, jodoh, pendidikan, anak, keliarga, finansial agar selalu diselimuti kebaikan.

Diamanapun usia saya berada, mudah-mudahan tetap menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia. Memberi manfaat untuk sekelilingnya. Menebar kebajikan tanpa menuntut imbalan. Dan selalu berani menghadapi masalah setinggi dan sebesar apapun itu.

Kepada usia 27. Kamu baik. Kamu baik Kamu baik. Semoga semuanya baik-baik saja.

3 tanggapan untuk “Kepada Usia 27”

  1. hem, semua akan ragu ketika baru rencana dan angan angan, apa akan seperti apa yang kita harapkan. satu satunya jalani dan syukuri yang sekarang mbak :). terkaang apa yang kita inginkan akan berbeda dengan rencana Allah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s