Tak Berkategori

Cahaya Malam

Kamu lihat batasan itu? Batas horisan yang memisahkan antara laut dan langit. Itulah kita, menyatu tapi tidak bersatu.

Aku sengaja membawamu kesini. Membawamu bercerita tentang cita-cita dan keinginanmu sebenarnya. Tentang masa depan yang selalu kau ceritakan dengan teropong tasawafmu. Kamu selalu bilang ‘jika engkau merindukanku, carilah Tuhanku, aku ada bersamanya’.

Lalu, kemudian kamu berdiri, dan  memberikan buku berjudul Layla. Judul yang sesuai seperti namaku. Rupanya kamu enggan memenuhi janjimu untuk bercerita dan memilihi pergi setelah memberi buku itu.

Setelah bayanganmu benar-benar lenyap dimakan cahaya. Aku baru berani menyentuh buku bersampul hitam biru itu. Memandanginya dengam tatapan sepertimu saat memandangku ketika aku dilanda kepanikan hebat. Aku adalah manusia diantara milyaran manusia yang paling beruntung saat itu. Matamu selalu mengisyaratkan ‘tenanglah, semuanya akan baik-baik saja’.

Aku ingat saat kita menepi di sebuah surau kecil karena hujan lebat. Kamu tertawa, aku pun mengikutimu tertawa. Melihat baju kita yang setengah basah kuyup dan baru memutuskan menyepi. Disana belum ada perasaan yang tumbuh seperti saat ini. Hatiku masih murni pertemanan. Belum lagi kala itu, kamu bebas saja melontarkan kata tanpa berpikir panjang akan ada yang dilukai. Tapi entahlah hatimu? Siapa yang tahu akan hati manusia, selaian Pangerannya.

Kala ini kamu berbeda, hatimu seakan membawa bongkahan batu lain. Terasa sekali kamu menjaga jarak. Kamu selalu berkelak ingin fokus dengan hal lain. Sedangkan hatimu, aku tahu pasti ingin melampiaskan sesuatu.

Aku buka lembaran pertama buku Layla. Tulisan kutipan hadis menyapa mataku. ‘Seseorang manusia yang menyembunyikan perasaan hatinya terhadap orang lain dan hanya Tuhan yang tahu. Lalu kemudian ia mati, maka matinya adalah syahid’.

Pikiranku menerawang jauh, meraba banyak kejadian yang aku rasa itu isyarat darimu. Perlahan kamu menghindar bertatapan dengan mataku. Menghindari segala macam pertemuan denganku. Tetapi di dunia lain, kamu seolah menuangkan apa yang kamu rasakan dengan tulisan yang secara isyarar dirujukan padaku. Apakah kamu benar-benar telah menjatuhkan hati padaku? Lalu darimana kamu memulai? Dan darimana aku mulai menyadari?

Kakiku aku langkahkan lebih jauh lagi. Ombak mulai bisa menyapaku dengan desiran pasir putih halus yang mengenai kulit ariku. Aku tersenyum. Ternyata rasanaa begini desiran aneh yang melanda hatiku beberapa bulan terakhir.

Tapi, kamu adalah pemimpin untuk kelonpokmu. Amanahmu masih ada dipundakmu. Jangan ijinkan cintamu yang tumbub itu melukai kawanmu yang lain. Jika kamu telah memilih dengan menitipkan hatimu pada buku Layla ini. Maka ku pilih cahaya itu, untuk menitipkan hatiku sementara waktu. Sampai kamu berubah menjadi Fajar, yang memberikan harapan banyak orang, termasuk kepadaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s