Tak Berkategori

Writer’s Block, Penulis, dan Aku

Alasan bagi kelahiran seni sejati adalah tuntutan batin untuk mengekspresikan perasaan yang bertumpuk. Konon kalimat itulah yang menjadi pijakan seorang sastrawan besar asal Rusia bernama Leo Tolstoy dalam setiap menyelesaikan karya-karya masterpiece-nya. Tidak heran bagaimana konsistensi dan pendiriannya yang gigih menjadikan karyanya yang agung dan penuh inspirasi itu menjadi tanda bahwa betapa mahal ia menghargai hidupnya sendiri.
Dalam usia senjanya, Tolstoy berhasil merampungkan sebuah novel berjudul Hadji Murat, meskipun dalam kondisi sakit-sakitan. Selama delapan tahun Tolstoy bergulat dengan novelnya yang mengisahkan tentang seorang pahlawan yang terperangkap dalam perseteruan kutub yang berbeda: pertempuran antara dua bangsa, suku-suku bangsa Kaukasus dan bangsa Rusia, dua agama, Islam dan Kristen Ortodoks; dan dua penguasa, Imam Shamil dan Kaisar Nicholas I.
Dari segi kepenulisan tidak diragukan lagi bagaimana kuaitas seorang master. Tapi apakah ide dari semua novel milik Tolstoy keluar begitu saja seperti peluru ? Aku rasa tidak. Ia telah mengabdikan seumur hidupnya sebagai penulis dan tentunya manis pahit kecut sebagai penulis telah dirasakannya. Apalagi menghadapi mandeknya ide atau yang lebih keren disebut Writer Block. 
Tapi rupanya ia ahli dalam mengontrol dirinya sendiri. Dari kalimat pembuka di atas, bisa dibaca sekali lagi, jika ia menulis bukan karena tuntukan ide yang datangnya entah di musim apa, melainkan ia menulis karena tuntutan batin. Sehingga karya yang dihasilkan berasal dari hati dan akan sampai ke hati pula.
Aku yang belum berani mendeklarasikan diri sebagai penulis tentunya harus belajar banyak dari sosok sastrawan besar asal Rusia tersebut. Bagaimana mengontrol ide agar tidak tiba-tiba mandek. Sebenarnya momok writer block pernah aku alami, tapi dengan taktik dan agak berkelit, aku menyebutnya sebagai puasa menulis. Kenapa puasa? Puasa adalah menahan diri dari godaan, membatasi segala perilaku munkar yang bisa memperburuk kualitas hidup. Begitu juga dengan puasa menulis,  aku ingin menyelami kembali tulisan-tulisan yang telah aku tetaskan. Apakah apa yang aku tuangkan menimbulan banyak mudhorot atau hanya sekedar pelampiasan nafsu semata. Yang paling horor, “apakah tulisanku kelak menjadi amal pemberat saat Yaumul Hisab ataukah sebaliknya?”. Wallahu a’lam.
Kembali lagi ke writer’s block yang sering dialami oleh penulis. Kebetulan aku penyuka tulisan random, artinya tidak melulu tulisan dengan genre tertentu, apalagi yang lagi ngetren dan kekinian. Seperti novel lawas milik Pramoedya dan Achdiat K. Muchtar. Kumpulan tulisan essai dari budayawan Emha Ainun Nadjib, Goenawan, dan Musthofa Bisri. Kumpulan cerpen dari penulis genius Puthut Ea, Eka Kurniawan, dan Dea Anugrah. Bahkan penulis status facebook seperti Iqbal Aji Daryono, Kalis Mardiasih, dan Agus Mulyadi yang penuh inspiratif dan imajinatif. Terlepas dari apapun itu, aku selalu terheran-heran  bagaimana mereka menemukan ide-ide yang selalu di out of the box dan terus menerus untuk dituangkan dalam tulisan?
Konon lagi, Writer’s Block itu selimut paling halus dari kata malas. Sekian.

Satu tanggapan untuk “Writer’s Block, Penulis, dan Aku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s