Review Buku

Biografi Gus Dur: Gus Dur Muda dan Terbentuknya Seorang Intelektual di Timur Tengah

Biografi Gus Dur (Greg Barton)

Daya tarik terbesar kota Kairo terletak pada universitas tertua di dunia yang sudah berusia ribuan tahun bernama Universitas Al-Azhar. Universitas ini berabad-abad lebih tua dari Oxford, Cambridge, Sorbonne, dan universitas-universitas tua lainnya di Eropa. Al-Azhar juga merupakan pusat sejumlah ide yang sangat modern dari dunia Islam. Sayangnya masa keemasan Al-Azhar telah mencapai puncaknya beberapa dasawarsa sebelumnya, tak khayal Gus Dur muda merasa kecewa. Memang pada tahun 1960-an, tingkat pertama di universitas ini tidak menawarkan banyak hal baru bagi lulusan sejumlah pesantren terbaik di Indonesia.

Menurut Gus Dur, pada saat tiba di Al-Azhar ia diberitahu untuk mengikuti kelas khusus memperbaiki pengetahuan mengenai bahasa Arab. Sebenarnya selama studi di Jombang pada tahun 1960-an Gus Dur telah lulus studi yurisprudensi Islam, teologi, dan pokok-pokok pelajaran terkait pengetahuan bahasa Arab dengan baik, namun ia tidak bisa menunjukkan ijasahnya. Sebagai akibatnya ia dimasukkan di kelas yang benar-benar pemula yang dianggap tidak mengetahui huruf abjad Arab, apalagi menggunakannya dalam percakapan.

Sebagai bentuk protes, Gus Dur tidak mengikuti kelas tersebut. Sebaliknya, ia malah menyalurkan hobinya mengikuti pertandingan sepak bola di Kairo, membaca di perpustakaan-perpustakaan besar, menonton film dan ikut serta dalam diskusi-diskusi di kedai kopi yang menarik. Kedai-kedai kopi yang penuh dengan asap rokok itulah yang menjadi ‘seokolah’ untuk menyempurnakan pengetahuan bahasa Arabnya.  

Barangkali akan lain cerita jika Gus Dur datang untuk program pascasarjana, mungkin pengalamannya akan berbeda. Al-Azhar memang murni sebuah universitas Islam, universitas ini tidak mau menggabungkan unsus-unsur pendidikan modern Barat dalam pengajarannya. Sebaliknya universitas ini lebih banyak memberikan pokok-pokok pelajaran klasik, seperti yang telah diajarkan selama berabad-abad lamanya dengan memprioritaskan hafalan dibandingkan dengan analisis. Karena Gus Dur mempunyai daya ingat yang kuat maka hal ini tentu saja tidak menarik dan tidak menantang baginya.

Bila Al-Azhar merupakan kekecewaan bagi Gus Dur, maka Kairo adalah sebaliknya. Kota itu sangat menyenangkan baginya. Di usia dua puluh limaan tahun, ia merasa bebas di kota itu. Pengalaman yang membebaskan tersebut merupakan barang baru baginya, ia dapat menghabiskan waktunya dengan caranya sendiri tanpa dihalangi oleh jadwal yang ketat dan diawasi seperti ketika ia berada di kota-kota kecil Jawa. Selama tinggal di Kairo, Gus Dur mendapatkan pekerjaan tetap di kedutaan besar Indonesia. Ia bekerja untuk menerjemahkan laporan-laporan ini ke dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris, dan oleh karena itu ia selalu bisa mengetahui keadaan terbaru di tanah air.

Selain bekerja di KBI, setiap hari Gus Dur menghabiskan waktunya di perpustakaan Universitas Amerika di Kairo. Bahkan ia telah membaca hampir semua karya William Faulkner, novel-novel Ernest Hermingway, membaca prosa dan puisi karya Edgar Allan Poe, puisi-puisi John Donne, karya-karya Andre Gide dan Kafka serta karya-karya Tolstoy yang sebelumnya tak bisa ia peroleh. Baginya, Kairo adalah kota yang penuh dengan kehidupan sastra, pencarian pengetahuan, dan ide-ide baru.

Meski lebih menghabiskan banyak waktu dengan membaca, menonton film-film Perancis, dan sepak bola, ia tidak pernah melewatkan ujian-ujian akhir. Karena Gus Dur dapat dengan mudah lulus ujian bahasa Arab pada akhir tahun 1964, ia menjadi percaya diri akan bisa melompati kelas-kelas yang biasa dalam studi. Akan tetapi ia salah besar. Pihak universitas yang mengurus beasiswanya tidak begitu suka dengan catatan kehadirannya dan juga ia terlalu memandang enteng persiapan yang diperlukan untuk dapat lulus ujian akhir.

Kekecewaanya tidak berlangsung lama. Setelah gagal menempuh studi di Universitas Al-Azhar. Ia mendapatkan tawaran beasiswa lagi di Universitas Baghdad. Tak diragukan lagi bahwa Gus Dur tertolong oleh kenyataan bahwa ia termasuk anggota dari salah satu keluarga ulama terkemuka di Indonesia dan juga atas usaha keras ibunya di Jakarta, yang mempunyai pergaulan luas dan penuh semangat untuk membantunya.

Salah satu alasan Gus Dur bersedia untuk pergi ke Baghdad adalah karena kekecewaannya terhadap gaya memerintah Nasser yang otokratik sehingga ia merasa tidak betah tinggal di Mesir. Selain itu, kota Baghdad merupakan kota kosmopolitas yang penuh vitalitas, baik dalam ilmu pengetahuan maupun seni. Kata orang-orang, para intelektual di sana mempunyai kebebasan untuk bertukar pikiran secara terbuka dan memperdebatkan hal-hal yang berkaitan dengan falsafah dan agama. Baginya, Baghdad adalah kota intelektual.

Universitas Baghdad telah mapan sebagai sebuah universitas Islam, tetapi tidak seperti Al-Azhar. Pada pertengahan tahun 1960-an, universitas ini mulai berubah menjadi universitas bergaya Eropa. Para mahasiswa di sini diharapkan untuk berpikir kritis dan banyak membaca. Tugas-tugas mereka juga harus mencerminkan hal tersebut. Bagi Gus Dur, yang diperolehnya adalah dorongan intelektual yang sejati dan bukan cara belajar menghafal. Ia pun harus belajar lebih keras dan teratur. Pada akhirnya, Universitas Baghdad terbukti merupakan lingkungan yang membuat Gus Dur tumbuh subur sebagai cendekiawan.

Dengan sejarahnya yang kaya akan orang-orang suci Syi’ah dan para sufi, lebih daripada Kairo, Baghdad merupakan kota magis bagi Gus Dur. Ia dapat menyalurkan kesukaannya untuk bersiarah ke makam-makan bersejarah yang paling penting bagi dunia Islam.

Dari perjalanan panjang proses studinya di kota Kairo dan kota Baghdad yang bisa dikatakan tidak mulus itulah yang membantu menempa terbentuknya intelektualitas Gus Dur muda. Meski Al-Azhar mengecewakan baginya, tapi tetap saja Kota Kairo telah menumbuhkan pemikiran kritisnya. Begitu juga dengan Baghdad yang memang telah memberikan apa yang ia cari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s