Kalau tidak salah hitung, sudah hampir delapan tahun aku tidak menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat yang menjadi saksi bisu perjalanan masa kecilku. Selalu ada warna cerita yang terpatri ketika bisa menginjakkan kaki di tempat ini lagi. Sayangnya ketika aku kembali, aku harus bertemu dengan duka.
Setelah waktu terbang begitu jauhnya selama delapan tahun. Akhirnya aku dikembalikan lagi ke tempat ini. Tempat yang saat ini penuh akan perempuan berkerudung dan lelaki berpeci. Semua orang yang berada di halaman rumah mungil itu menundukkan kepala. Melantunkan doa dan ayat untuk raga yang terbujur kaku di singgasana.
Persis di depanku, di arah Barat Laut, kereta kencana berselimut kain hijau dan rangkaian bunga di tempatkan. Di dalam kereta kencana itu telah terbujur kaku ayahanda dari karib masa kecilku. Siap diantar ke Masjid untuk di sholati dan kemudian diantar menuju ke tempat peristirahat terakhirnya. Menerjang gelapnya malam dan rinainya hujan. Seolah alam turut berduka atas seorang hamba yang kembali pada-Nya.
Kabar jika ayahanda karib masa kecilku telah menghadap ke Sang Illahi tidak memberikan kekagetan bagi masyarakat sekitar. Pasalnya sudah hampir setengah tahun, beliau mendapatkan cobaan berupa penyakit yang membuatnya seperti mayat hidup. Ini adalah saatnya beliau bisa beristirahat dengan tenang, tanpa dihantui rasa sakit. Tapi tetap saja yang namanya kematian, pasti ada yang berduka!
Aku lemparkan pandanganku di antara kerumunan orang-orang itu. Tampaknya pihak keluarga sudah mengikhlaskan kematian ini. Kesedihan sudah berkurang di wajah mereka, yang ada tinggalah mata yang memerah, tanda habis menangis. Sang istri pun hanya duduk diam –tanpa suara ataupun isakan tangis-, sembari menyalami para pelayat yang datang membawa baskom berisi beras atau amplop.
“Dimakamkan jam berapa?” bisikku pada ibu yang duduk di sebelah kiriku. Bulu romaku semakin bergidik melawan aroma bunga yang identik dengan orang mati –yang sangat menusuk hidung.
Langit semakin menggelapkan diri. Jarum jam dinding terus bergerak menyentuh angka sembilan. Memakamkan sesorang yang telah meninggal di malam hari adalah hal yang tidak lumrah di desaku. Setiap ada yang meninggal sore hari, pasti akan dikebumikan esok paginya. Tapi entah kenapa, saat ayah dari karibku ini meninggal sore tadi, tiba-tiba saja pengumuman lelayu yang disiarkan lewat masjid memberi kabar jika jenasah dimakamkan malam ini juga.
“Bentar lagi, nunggu anaknya datang.” Bisik ibu di telingaku.
Aku baru menyadarinya dari sekelompok orang yang berkerumun di sana. Tidak nampak anak bungsunya. Anak bungsu yang notabene adalah karib kecilku. Kenapa aku baru menyadarinya?
Anak bungsu perempuannya ternyata masih dalam perjalanan menuju ke sini. Setelah ia menikah, ia memutuskan tingga di rumah suaminya yang berada di luar kota, sehingga membutuhkan waktu panjang untuk sampai ke sini. Aku memaklumi mengapa ia memilih tinggal di rumah suaminya. Rumah sederhana milik keluarganya telah dihuni oleh ibu, ketiga kakak lelakinya, satu kakak perempuan bersama suami dan dua anaknya. Tidak mungkin ia menambah beban di rumah mungil tersebut.
Aku menghardik diriku sendiri. Melumatkan segala pandanganku ke arah langit. Membayangkan betapa jahatnya aku. Setelah delapan tahun tidak lagi menginjakkan lagi di tempat ini. Aku datang ketika duka menyelimuti keluarga ini. Beberapa bulan yang lalu karib kecilku itu menikah, namun sayangnya aku tak bisa hadir karena masih harus kuliah di luar kota. Betapa aku menyesali itu.
Sepuluh tahun silam, dimana seragam merah putih masih melekat pada tubuhku. Rumah sederhana ini bagaikan rumah keduaku. Setelah pulang sekolah, segera aku melarikan diri ke rumah, melepas semua atribut sekolah dari tubuhku. Sesudah ganti baju, aku segera menuju rumah ini, diiringi dengan suara panggilan khas.
“Yukkkkkk….Ayukkkkk”
Setelah menggema di ambang pintu milik rumahnya. Karib kecil yang dipanggil ‘Ayuk’ itu keluar rumah atau kalau dia lagi malas main diluar, ia bakal menyuruhku masuk ke dalam rumah. Menonton tv bersamanya, bermain boneka, bermain pasar-pasaran, curhat bersamanya, dan bermain apa saja yang bisa dimainin. Bukan hanya kepada dia aku akrab, kakak-kakaknya pun akrab denganku. Malah sering diskusi bareng mereka.
Sebelum tanah lapang di depan rumahnya itu di bangun menjadi ruko. Banyak sekali pepohonan yang tumbuh subur turut mendampingi pertumbuhan masa kecil kami. Ada pohon kresen, pepaya, jambu, mangga. Setiap akhir pekan aku, Ayuk, dan karib lain selalu membuat agenda rujakan. Berbekal pinjam cowek dan bumbu milik ibunya atau ibuku, kami dan anak kecil sepantaran lainnya bercanda bersama sambil nguleg rujak di depan rumahnya. Ah, aku merindukan masa itu.
Tanah lapang yang luas itu, juga sering kami manfaatkan sebagai arena mainan, seperti bola kasti, sepak bola, sekitan, betengan, petak umpet, lompat tali, dan beraneka ragam jenis dolanan tradisional lainnya. Tak jarang aku sering dijadikan sasaran empuk untuk selalu kalah. Karena aku begitu cupu dan culunnya. Ketika ufuk matahari sudah berpindah ke Barat, maka ayah Ayuk lah yang akan menjadi timer untuk segera mengakhirinya. Sebelum ayahku sendiri yang menjemput aku pulang dengan tatapan garangnya, aku lebih memilih segera kembali ke rumah terlebih dahulu.
Ketika musim hujan turun. Maka cerita kecil kami lain lagi dan tambah berwarna. Hujan adalah berkah bagi anak kecil seperti kami. Waterboom belum menjamur seperti sekarang, meskipun ada, itupun berada di luar kota. Jadi waterboom alami kami adalah ketika turun hujan. Pralon-pralon depan rumah akan kami jadikan air mancur. Jalan-jalan penghubung antar rumah akan kami jadikan kolam renang. Tak kalah menyenangkan lagi, jika mangga pada berjatuhan saat hujan turun, maka kami akan segera berlari berburu mangga itu. Mangga seperti itu lebih nikmat ketimbang beli.
Sayang seribu sayang. Sekarang aku tidak bisa merasakan itu semua lagi, menggapainya pun tidak mungkin. Roda telah berputar. Setelah aku memutuskan diri untuk melanjutkan sekolah menengah pertama yang mentereng di kabupaten. Semua waktu, kesenangan, kesibukan telah direnggut olehnya. Aku sudah jarang berkomunikasi dengan dirinya. Yang aku ketahui, ia juga melanjutkan di salah satu madrasah tsaniyah di kabupaten, tapi kata ibu ia tidak tuntas dan memilih keluar karena alasan ekonomi.
Perlahan tapi pasti, hubunganku dengannya mulai renggang. Setelah ia memutuskan keluar dari sekolah, aku sudah tidak tahu lagi apa kesibukannya saat itu. Sampai beberapa tahun lamanya ada kabar jika dia akan menikah. Dan, itupun aku tak bisa hadir di hari bahagiannya.
Ada kabar, jika ia seharusnya menikah di bulan Februari. Tapi melihat kondisi ayahnya yang semakin hari semakin memburuk, alhasil pernikahannya dimajukan di bulan September tahun lalu. Pilihan yang sangat tepat. Pada akhirnya ayahnya menghembuskan napas terakhir di bulan Februari.
Bau sekeranjang bunga mawar dan melati yang tepat berada di belakang kursiku membawaku kembali ke alam sadar. Kini aku telah kembali ke masa sekarang, dengan pemandangan sama seperti saat aku datang satu jam yang lalu: keranda mayat dan para pelayat lainnya.
Tiba-tiba objek pemandangan para pelayat tertuju pada jalan raya. Aku pun turut mengikuti arah pandang mereka. Berusaha menangkap objek yang dimaksud. Kini anak bungsunya telah sampai dan sedang melangkahkan kaki dari pinggir jalan raya menuju rumahnya. Dengan masih bertopeng helm dan masker, ia terus berjalan menyusuri para pelayat lainnya. Kakinya pun harus ditopang sekuat tenaga agar mampu berjalan sampai ke teras rumahnya.
Seperti rinai hujan yang menyelimuti duka malam ini. Air matanya tak terbendung. Bola matanya penuh linangan air mata. Ia memeluk ibunya yang duduk disebelah keranda. Isakan tangisnya menggema di sela-sela rinai hujan yang turun. Mengundang air mata para pelayat untuk ikut merasakan apa yang dialami si anak bungsu perempuan tersebut.
Semua sanak keluarganya telah hadir, dan itu tandanya sang raga yang telah terbujur kaki harus segera diantarkan ketempat peristiratan terakhir. Tidur dengan damai tanpa ada rasa sakit membelenggunya. Semoga.
Kudus, 21 Februari 2016
Menuju dini hari

Saran saya, buat tulisan lebih showing.. Hehe.. Tetap semangat dan terus menulis ya mbak..
SukaSuka
Oke bang, tulisan tanpa edit tanpa baca ulang, jadinya beginilah –'
SukaSuka
Kalau untuk sekali nulis langsung posting, ini udah kereeen banget..
SukaSuka