Tak Berkategori

Ndeso

Kata (n)deso merupakan salah satu kata serapan basa jawa. Jika disejajarkan dengan bahasa Indonesia, kata deso (tanpa n) memiliki makna desa atau kampungan. Berbeda lagi jika kata deso diberi awalan huruf n menjadi ndeso maka maknanya bergeser menjadi kampungan.

Kampungan atau ndeso sangat lekat dengan orang desa yang sedang melakukan kegiatan urbanisasi (berpindah ke kota). Jika ditelisik, ndeso merupakan perihal sentimental jika berhubungan dengan gaya hidup di kota. Penyandang kata ini akan dicap sebagai orang kuno, gagal gaul, kuper, kudet, dan hal-hal kurang lainnya.

Tapi, orang ndeso yang mampu bertahan di tengah orang urban militan. Pasti memiliki mental sekeras baja. Hidupnya slow tanpa galow. Apalagi jika kekonyolan sudah telontarkan dari indra-indra di tubuhnya. Pasti akan mengundang decak tawa dan bibir yang semula bak garis horisontal akan rela melengkung ke atas. Keunikannya tiada duannya.

Selepas jam 9 pagi tadi. Saya mendapatkan mandat menjadi tukang ojek ibu untuk melakukan aktivitas belanja bulanan disalah satu supermarket. Dengan elegan dan sok jadi anak baik. Saya mendorong troli menyusuri area sembako. Mengikuti ibu yang berada di depan.

Nah disaat ibu memilih minyak goreng. Tatapan mata saya tertarik dengan dua orang perempuan dan anak laki-laki satu. Pakaian yang  dikenakannya pun seadanya. Perempuan paruh baya yang disapa mak e oleh perempuan yang lebih muda selalu menatap barang-barang dengan tatapan meneliti antara bingung dan takjub. Tanpa menyentuhnya sekali pun.

“Iki oleh dicekel gak?” tanya perempuan paruh baya itu. (Ini boleh dipegang nggak)

Karyawan yang berada disebelahnya langsung menimpali “Boleh buk.”

“Ogak dikampleng a?” tanyanya lagi. (Tidak dimarahin kan)

Saya yang tidak sengaja mendengar ingin rasanya tertawa. Tapi masih ditahan.

Setelah sampai di kasir. Ternyata saya berada dibarisan belakang perempuan paruh baya tadi.

“Mbak oleh dinyang?” kali ini si mak e bertanya lagi ke mbak-mbak kasir. (Mbak boleh ditawar).

Si mbak kasir hanya mampu menggelengkan kepalanya dan mengulas senyuman.

Selesai membayar. Perempuan paruh baya tersebut berpamitan.

“Maklum mbak wong ndeso” timpal perempuan yang lebih muda.

Ketika saya dan ibu telah selesai menuntaskan kewajiban membayar di kasir. Pandangan saya mencari sosok perempuan itu lagi. Ternyata dia sedang ketakutan naik eskalator. Dan, ketika kakinya telah sukses menaiki eskalator, tawanya pecah, menggema di tembok elit bangunan mall.

Mak tratap. Kok saya jadi ikut terenyuh yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s