“Setiap manusia ada masanya.”
Kutipan di atas diambil dari buku Sayap-Sayap Mimpi karya bapak presiden ke-tiga B.J. Habibie. Di dalam buku tersebut diberi penjelasan bagaimana setiap rezim yang menguasai Indonesia ada batas awal dan akhir. Kekuasaan Soekarno ada pada masa sebelum Proklamasi , sedangkan kekuasaan Soeharto ada pada masa sesudah Proklamasi. Semuanya sudah terikat dengan hukum alam masing-masing. Jika manusia serakah dengan masanya. Maka konsekuensi terburuk akan mengahampirinya. Seperti yang terjadi pada Soekarno yang harus turun tahta atas tuduhan komunis, dan Soeharto juga harus turun tahta karena kediktatorannya dan tuduhan korupsi.
Belajar dari yang terjadi pada pendahulunya. Pada saat Habibie mendapatkan amanah menggantikan Soeharto sebagai Presiden, beliau sebenarnya enggan. Namun atas dasar aturan hukum yang sudah terikat pada dirinya. Mau tidak mau beliau menerimanya. Setelah masa jabatan berakhir, beliau mengultimatum dirinya jika tidak berkenan dicalonkan sebagai presiden lagi. Apa yang terjadi setelah itu? Habibie malah mampu menginspirasi seluruh rakyat Indonesia melaui karya tulisan dan film. Namanya tetap baik dan tidak tercoreng. Apa jadinya jika ia memilih tetap jadi presiden?
Selain manusia. Ada kisah klasik lainnya yang memberikan gambaran pentingnya ultimatum. Kisah ini ada pada burung elang tentang bagaimana cara dia bisa hidup lebih lama. Ketika elang memasuki usia separuh abad ia akan bersembunyi dibalik gua atau tempat-tempat tersembunyi yang jauh dari jaungkauan makhluk hidup. Elang mengultimatum dirinya untuk tetap bersembunyi dan menyiksa dirinya dengan memukulkan paruhnya ke benda yang keras. Itu dilakukan sampai paruhnya tumbuh baru. Demi hidup lama.
Ultimatum itu sendiri merupakan sebuah peringatan atas apa yang seharusnya dilakukan. Jika ultimatum tidak dilaksanakan, tentunya konsekuensi siap diterima.
Kali ini saya juga barusaja mendapatkan ultimatum. Bukan ultimatum dari diri sendiri, seperti yang dilakukan BJ. Habibie maupun si Elang. Melainkan ultimatum dari lelaki yang paling saya hormati dan cintai selama hampir seperlima abad. Abah yang biasanya cuek bebek dengan polah saya dalam memegang benda bernama gajet. Tiba-tiba memberikan teguran yang menohok –tepat di ulu hati.
“Bocah kok uripe mung nyawang hape wae!” (Bocah kok hidupnya cuma mainan hp saja)
Padahal saya punya argumen banyak sekali untuk mematahkan anggapan negatif tentang gajet yang sering saya buka –seperti minum obat tiga kali sari atau kayak sholat lima kali sehari- dan saya lakukan di dalamnya. Tapi saya lebih memilih diam. Daripada jatah uang saku dipotong, urusan jadi berabe.
Jika sindiran sudah terlontar dari mulut Abah. Itu tandanya saya harus menyawang diri untuk mengurangi berinteraksi dengan gajet. Baik untuk sekedar buka obrolan grup medsos, cek beranda facebook, cek timeline bbm, twitter, dan instagram, atau hanya ngepoin gebetan. Semunya mutlak DILARANG! (bold,italic,underline)

berarti dilarang komen juga di grup ODOP ya hehehe
SukaSuka