Tak Berkategori

Kretek

Kebetulan saya lahir dan tumbuh besar di kota Kudus, kota yang mendapat julukan sebagai kota Kretek. Serta, kebetulan juga rumah saya berada sepuluh lemparan batu dari pabrik kretek. Nama pasar kretek adalah rokok. Jadi intinya kehidupan dan lingkungan saya dikelilingi oleh hal-hal berbau rokok. Mata saya pun sudah terbiasa dengan pemandangan macet kota Kudus di siang hari, dimana para ibu-ibu pekerja pabrik rokok mentas bekerja.

Pemberian julukan kota Kretek bermula dari menjamurnya pabrik-pabrik rokok di daerah Kudus. Selain itu, mayoritas masyarakat Kudus kebanyakan menggantungkan hidupnya di pabrik rokok, yakni sebagai buruh mbatil dan buruh nggiling. Penghasil uang pajak terbesar di Kudus juga ada pada pabrik rokok.

Dampak dari adanya pabrik rokok yang menjamur di kota Kudus tidak hanya dirasakan oleh pegawai/buruh yang bekerja untuk pabrik. Yang berada di sekeliling pabrik pun turut kecipratan. Lapangan pekerjaan dan meraup untung di pinggir pabrik terbuka lebar. Berbagai macam pedagang (sayuran, pakaian, kebutuhan sehari-haru) pada gelar tikar dan tenda di luar pabrik, siap menyambut para buruh yang mentas bekerja. Tak ketinggalan, warung makan yang sangat terjangkau koceknya juga tersedia, menyambut para pekerja pabrik sudah kelaparan. Bagi pemilik lahan/halaman luas yang sekiranya berada di area pabrik, bisa dimanfaatkan sebagai tempat parkir, karena kebanyakan para pekerja menggunakan transportasi sendiri. Untuk yang tidqk membawa, tersedia juga angkutan dan bus mini yang siap mengangkut mereka pulang.

Tidak perlu diragukan lagi bagaimana rokok yang saat ini dipertentangkan kehalalannya oleh MUI mampu memberi kehidupan dan berkah bagi orang di sekitarnya. Pikiran buruk pernah terlintas, bagaimana nasib mereka semua (tidak hanya kaum pegawai/buruh, tetapi juga masyarakat sekitar yang mencari riski dari keberadaan pabrik rokok) jika tiba-tiba pemerintah atau oknum siapa saja yang memboikot rokok. Sehingga akan menggoyahkan kestabilan perekonomian dari pabrik kretek. Efeknya mbleber kemana-mana.

Dahulu, sekitar tahun 80-an, dimana kretek yang masih dibungkus dengan klobot jagung atau daun aren dan berisi campuran tembakau cengkeh, sangat dipercayai masyarakat sebagai penyembuh asma atau paru-paru. Nama kretek diambil dari bunyi cengkeh dan tembakau yang ketika dibakar menimbulkan suara kretek-kretek. Selanjutnya kretek berkembang pesat menjadi barang komoditi yang menjanjikan dan menguntungkan.

Layar televisi yang belum bisa menjamah ke sektor lapisan masyarakat bawah  -karena listrik masih terbatas- membuat masyarakat memilih rokok sebagai hiburan dikala penat dan padatnya aktivitas. Saya pernah melihat salah satu chanel di Youtube yang mempertontonkan kisah manusia lebih separuh abad. Yang berada di frame layar adalah para simbah-simbah desa yang usianya sudah lebih separuh abad, namun masih gandrung ngeses (ngerokok). Mereka rata-rata menuturkan jika kesehatannya baik-baik saja, tidak pernah mengeluhkan sakit yang beraneka warna bentuknya, seperti yang dirasakan oleh orang-orang kaya. Alasannya karena merokok. Dan, di otak saya langsung terngiang propaganda pemerintah yang mengatakan jika rokok berbahaya bagi kesehatan. Belum mampu membaurkan kedua pendapat tersebit.

Kebetulan yang terakhir adalah saat ini saya tengah merampungkan membaca Novel Gadis Kretek, karya Ratih Kumala, istri dari penulis terkenal Kompasiana, Eka Kurniawan. Novel ini berkisah tentang kayanya wangi tembakau, yang sarat aroma cinta.

6 tanggapan untuk “Kretek”

  1. Mbak Nurul.. kok saya gagal paham ya. Haduh efek laper kayaknya nih..Tulisannya bagus.. nambah pengetahuan ttg sejarah kretek.Tapi di akhir tulisan berasa ngegantung. Harusnya klo menurut saya, mbak tulis juga sedikit tentang isi buku itu. Jadi biar ada sambungan dengan tulisan atasnya.. hehe..Dan saya juga gak menangkap, mbak Nurul ini sebenernya lebih pro sama kretek itu ya?

    Suka

  2. Wkwkwk tulisan absurb ini mb, karenan saya belum merampungkan membaca bukunya makanya saya tidak berani mengutarakan isi bukunya. Anggap saja ini intronya mb, isi buku lain waktu aja nulisnya. HeheDitulisan ini saya juga belum mengeksekusi apakah saya pro atau kontra. Seperti tulisan akhir di paragraf 6, 'belum mampu membaurkan pendapat keduanya'. Bisa dikatakan saya seperti buah simalakama, karena simbah saya hidup dari parkir motor para buruh pabrik. Dan pas sma saya juga penggerak anti rokok, malah ikut lombanya juga. WkwkHarapannya tulisan ini dihadirkan sebagai penyeimbang yang kontra dengan merokok, dengan sudut pandang berbeda. E eksekusinya gagal, haha

    Suka

  3. Saya pernah baca soal propaganda itu. Industri rokok sikut2 an sama industri farmasi. Kenapa demikian? Dengan digadang2 kan mengenai bahaya rokok, masyarakat akan rame2 berhenti dari candu rokok. Untuk berhenti ini butuh proses yang (katany) panjang dengan biaya pengobatan yg tidak murah. Dari sanalah industrial farmasi memasuki celah di pasar.

    Suka

  4. Nah nah nah, niatnya mau nyampein propaganda ginian, tapi entah kenapa tiba2 hilang dari ingatan, wkwk. Takutnya dicap liberalis banget. Yang ada diotakku malah, rokok dan farmasi itu semcam permainan bagi pemerintah. Ah mikir ginian malah bikin gagal nikmatin hidup. Wkwk

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s