Tak Berkategori

Memaknai Buku dan Bunga

Buku adalah jendela dunia.

Memang benar adanya, buku akan membawamu ke dunia lain. Sisi lain dunia yang tak ketahui. Sisi dunia lain yang memberikan gambaran pelangi kehidupan, memberikan uraian dari A-Z tentang berbagai macam hal, bisa juga menjadi titik balik perspektif tentang ilmu.
Tapi, bagi saya buku tidak sekedar melulu soal perspektif ilmu, pengetahuan, sastra atau kehidupan. Saya memaknainya lebih rumit lagi. Ini perkara emosional dan sensitifitas. Ada jati diri dan jiwa yang ikut membersamainya.

Seperti saat membaca buku. Saya selalu memiliki ritual khusus soal ini. Tergantung juga pada jenis buku yang saya baca. Tetapi hal inilah yang terkadang saya sedikit emosional. Buku yang saya baca memang buku yang benar-benar dituntut untuk saya sukai. Karena semua buku bacaan yang ada di rak saya berawal dari ketidaktarikan. Karena saya yakin, saat saya dari awal tidak tertarik untuk membaca, namun memaksakan membaca sedari awal, kemudian lambat laun waktu telah mengubah benci menjadi cinta. Pepatah Jawa menyebutnya, tresna jalaran saka kulina.

Ketika saya sudah berhasil berda di titik mencinta, disitulah saya akan menemukan kemenangan dari dalam saya. Jati diri saya bangkit, seolah telah menjadi jawara dalam pertempuran. Jiwa saya semakin kuat, karena ruh saya semakin memanunggaling dengan buku yang saya baca.

Jadi, teman-teman akan menjumpai sosok Nurul yang berbeda ketika sudah berurusan dengan buku. Tidak ada Nurul yang ramai dan rusuh, suka membeo kesana kemari. Yang kalian temui adalah Nurul yang berada dalam keheningan. Nurul yang berada dalam kesuwungan. Nurul yang tengah berjuang melawan dirinya sendiri untuk bisa memanunggaling dengan buku yang dibacanya. Memberi nyawa di setiap katanya, agar terbentuk imajinasi dan pemahaman di dalam otaknya yang ruwet itu.

Begitu juga dengan bunga. Saya pun punya pemaknaan sendiri tentang bunga. Semakin bunga itu layu, menguning, dan kering, semakin bunga itu cantik dimana saya. Secara estetika bunga kering tersebut memiliki nilai vintage atau kuno di dalamnya dan itu terlihat indah. Tapi selain itu, bagi saya bunga kering tersebut akan selalu mengingatkan saya pada kematian.

Setiap kehidupan akan selalu berujung dengan kematian. Entah bunga/tumbuhan, hewan, manusia, semua akan mengalami masa itu. Semakin bunga itu layu, semakin pula ia dekat dengan masa senjanya. Seperti halnya manusia, semakin dewasa, semakin pula ia mendekati masa senjanya.

Jadi jangan hanya mengasihi, mengagumi, menyayangi bunga pada saat merekah-rekahnya dan harum semerbak baunya saja. Kamu nggak mau kan, jika suatu saat nanti kamu tua (tidak cantik dan tidak wangi lagi) dicampakkan oleh orang-orang yang pernah menyayangimu ?

3 tanggapan untuk “Memaknai Buku dan Bunga”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s