Tak Berkategori

Kait Takdir


Matahari begitu terik siang ini. Seakan jaraknya hanya sejengkal di atas kepalaku. Polusi bercampur panas matahari membuat seragamku semakin lusuh bermandikan keringat. Bunyi klakson bersautan bercampur suara mesin motor roda dua dan empat, membentuk paduan harmonistik laksana perkusi.
Aku lirik jam tangan di pergelangan tangan kiriku, memastikan berputar secara sempurna, tidak kurang dan tidak lebih.’Ah masih pukul 11.30 ternyata’ gumamku lirih.
 
Aku sudah duduk di taman ini satu jam lamanya. Satu jam yang hanya aku habiskan bermain gawai dan berfoto di depan Gereja Belenduk. Gereja yang saat ini tepat di belakang punggungku. Di sebelah kananku ada tiga orang teman yang bernasib sama sepertiku –terancam dikeluarkan dari sekolah–. Di sebelah kiriku ada dua orang teman yang mengorbankan dirinya untuk ikut cabut dari sekolah, dengan dasar persahabatan. Tapi kami bertujuh hanya berlomba untuk saling membisu. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata untuk membuka pembicaraan.
Sebenarnya, satu jam lalu aku masih menginjakkan kaki di ruangan ber-AC, dengan cat dinding warna putih yang di tempeli gambar pancasila, presiden, wakil presiden serta tata tertib BK. Tapi kenyaman ruangan itu dan empuknya sofa yang aku duduki tidak bisa dinikmati dengan sempurna. Tubuhku panas dingin mendengarkan ocehan ngalor ngidul yang bernada ancaman. Otakku yang keras kepala dilanda kecemasan, setelah ultimatum akan dikeluarkan dari sekolah diucapkan oleh kepala sekolah.
Nge-rokok yok!’ Akhirnya aku mulai menutup keheningan ini. Mengembalikan lamunan mereka ke tempat semestinya. Aku yakin, mereka (termasuk aku) cemas memikirkan bagaimana mengatakan ini pada orangtua. Kami memang brengsek, kami memang anak tidak tahu diri, tapi tolonglah saat ini kami butuh penenang. Dan penenang itu didapat saat kami merokok.
Bang…’ teriakku dari tengah taman untuk mengalihkan perhatian pedagang asongan yang berada di seberang jalan.
Rokoknya gue borong semua bang!’. Wajah pedagang itu kelihatan heran, tapi sejurus kemudian senyuman terbesit di wajahnya. 
***
Panas matahari yang semakin tidak memberi ampun, membuat aku menyerah untuk melanjutkan foto-foto. Aku memilih untuk duduk disalah satu bangku taman yang teduh akan pohon rindang. Sembari menunggu kakakku yang sibuk mengoperasikan kamera. Kedua mataku malah sibuk mengamati pemandangan itu. Pemandangan tanpa interaksi dan komunikasi. Hanya saling diam dan mendiamkan.
Tapi, tiba-tiba saja pemandangan diam itu dikejutkan oleh salah satu dari ketujuh anak beseragam sekolah tersebut yang berdiri. Bola mataku mengikuti setiap gerak geriknya dan  menangkap siapa yang dimaksud ketika dia meneriakkan sesuatu.
Dua menit kemudian pedagang asongan itu mendekat ke gerombolan anak tersebut. Serta mengeluarkan satu pack lebih bungkus rokok. Seketika aku melongo mendapati kenyataan itu. Spekulasi diotakku semakin menguat kalau gerombolan anak ini bolos sekolah dan kemudian merokok berjamaah.
Beberapa menit kemudian, pedagang yang menjajakan rokok, minuman, permen, kacang, dan tisu lewat di depanku. Menawariku beberapa macam dagangannya. 
Aqua satu ya bang’.
 
Setelah barang ditangan, giliran uang kertas lima puluh ribu aku berikan kepadanya. Dengan anggukan kecil dia mengambil uang dari tanganku dan tangannya menyusuri saku-saku celana serta kemeja kedombornya –mencari uang kembalian.
‘Bang tadi anak sekolah itu beli rokok ya? (Kenapa abang bolehin? Itu kan tidak baik.)‘ tanyaku pelan dan dengan terpaksa menyembunyikan pertanyaan terakhir.
Iya neng, alhamdulillah rokoknya laris manis, semua diborong anak sekolah itu. Saya lagi butuh uang, istri saya habis lahiran dan harus nebus bayar rumah sakit. Kalau nggak, anak kami tidak boleh dibawa pulang.’ tutur abang asongan tersebut.
Seketika aku tertegun. Pandanganku kini kembali tertuju pada ketujuh anak sekolah yang asyik mengepulkan asap dari batang rokoknya.

18 tanggapan untuk “Kait Takdir”

  1. mbak Nurul. pilihan katanya bagus. Tapi alur cerita berjalan sangat lambat. khawatir nya orang bisa bosan bacanya. contohnya, mbak Nurul menggambarkan suana Yang hening dimana anak2 sekolah Yang di skors tidak saling bicara satu sama lain Dalam 2 paragraf. mungkin lain kali penggambaran tersebut dapat diangkat Dalam 1 paragraf. gitu mbak menurut saya..hehehe semoga berkenan ya sama kritikannya.

    Suka

  2. Sempat kepikiran bang sudut pandangnya dibuat tiga. Tapi malah bingung nentuin alur cerita buat si pedagang itu. Pengennya kan pengunjung taman itu terkejut dengan jawaban si pedagang (yang berbeda dengan pemikirannya). Kalau si pedagang dibuat sudut pandang lagi takutnya nanti bisa ketebak alasan dia bersyukur rokoknya laku. Hehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s